Catatan Jurnalis
Catatan Seorang Jurnalis: Salib dan Joker
Pernah ada seorang manusia yang lebih miskin dari Arthur Fleck. Ia disebut sebagai pencipta alam semesta. Sang Alfa dan Omega.
Penulis: Arthur_Rompis | Editor: Gryfid Talumedun
SEJUMLAH kritikus menyebut Joker Folie à Deux sebagai film yang gagal.
Saya kira demikian adanya.
Sepakat.
Film ini penuh dengan dialektika yang tidak pernah benar-benar sampai pada klimaks.
Ia seperti tubuh yang terus bergoyang tanpa arah, bergerak, tetapi tanpa nyawa.
Namun bagi saya, “dosa” terbesar film ini bukanlah kegagalan artistiknya.
Yang lebih mengganggu adalah cara film ini mengglorifikasi Joker, si pembuat kekacauan sebagai figur yang nyaris heroik.
Saat layar menyorot Joker, suasana menjadi bergairah.
Setiap gerakannya dipenuhi sensasi.
Orang-orang di dalam layar berteriak histeris, seolah hendak menyeret penonton ikut masuk ke dalam kegelapan yang memabukkan itu.
Sebaliknya, ketika Arthur Fleck muncul, dunia mendadak redup.
Layar seperti tertutup mendung.
Hidup terasa seperti rawa payah ; lengket, sunyi, dan tanpa harapan.
Arthur tidak memiliki apa pun yang membuat dunia ingin memandangnya.
Ia miskin, rapuh, tak berdaya, tak waras, sepi, bahkan menjijikkan bagi banyak orang.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/manado/foto/bank/originals/Catatan-Seorang-Jurnalis-Salib-dan-Joker.jpg)