Sabtu, 2 Mei 2026
Sulawesi Utara
Menuju Sulut Maju, Sejahtera dan Berkelanjutan

Resensi Buku

Menakar 'Imunitas' Sistem Kesehatan Nasional: Refleksi Akademis Dinamika Kebijakan Era Transformasi

Resensi buku karya Dr. Andi Surahman Batara, SKM., M.Kes berjudul Politik Kesehatan: Teori, Aktor, Sistem, dan Dinamika Kebijakan di Indonesia.  

Tayang:
Tribun Manado
Al Ihksan Agus, M.Kep. Penuilis adalah dosen Prodi Ilmu Keperawatan Universitas Sam Ratulangi Manado. 

Ringkasan Berita:1. Buku karya Dr. Andi Surahman Batara menjelaskan bahwa kesehatan bukan sekadar urusan medis teknis, melainkan produk dari dinamika politik, alokasi sumber daya, dan prioritas kekuasaan sebuah negara.
 
2. Tenaga kesehatan didorong memiliki literasi dan kompetensi politik agar mendapat ruang dalam penentuan kebijakan maupun anggaran kesehatan.
 
3. Pemahaman terhadap anatomi birokrasi dan kebijakan sangat penting untuk memastikan sistem kesehatan nasional berjalan transparan, adil, dan merata.

 

Oleh: Al. Ihksan Agus, M.Kep
Dosen Prodi Ilmu Keperawatan Universitas Sam Ratulangi Manado


DI TENGAH hiruk-pikuk transformasi digital kesehatan dan upaya pemulihan pascapandemi yang belum sepenuhnya tuntas, sebuah pertanyaan mendasar muncul ke permukaan: Apakah kesehatan benar-benar urusan medis semata?

Dalam kacamata klinis, kita mungkin melihat penyakit sebagai invasi patogen ke dalam tubuh manusia, namun secara makro, kesehatan adalah cerminan dari bagaimana sebuah negara mengalokasikan sumber daya dan menetapkan prioritas kekuasaan.

Inilah yang dibedah dengan tajam dalam buku terbaru karya Dr. Andi Surahman Batara, SKM., M.Kes berjudul Politik Kesehatan: Teori, Aktor, Sistem, dan Dinamika Kebijakan di Indonesia.  

Buku ini hadir di momentum krusial saat Indonesia sedang berupaya keras mengintegrasikan sistem data kesehatan melalui platform SatuSehat dan memperkuat jangkauan JKN.

Melalui karya ini, penulis mengingatkan bahwa setiap regulasi yang diterbitkan adalah produk dari proses politik yang panjang, sebuah realitas yang seringkali terlewatkan dalam kurikulum pendidikan tinggi kesehatan kita.

Sebagai akademisi di bidang Keperawatan Medikal Bedah, saya melihat buku ini memberikan perspektif baru bahwa keberhasilan klinis tidak bisa dilepaskan dari kebijakan yang mendasarinya.  

Salah satu poin paling menarik adalah pembahasan mengenai kompetensi politik bagi tenaga kesehatan di Bab 2.

Penulis menyatakan bahwa tenaga kesehatan tidak boleh lagi hanya menjadi 'pelaksana teknis' di ujung rantai kebijakan. 

Tanpa pemahaman politik yang kuat, aspirasi praktisi di lapangan seringkali kalah bersaing dengan kepentingan lain yang memiliki daya tawar politik lebih besar, terutama dalam penentuan anggaran kesehatan di daerah.  

"Kesehatan adalah arena di mana kekuasaan, kepentingan, dan kebijakan bertemu untuk menentukan siapa yang mendapat layanan, dan siapa yang tertinggal," tulis Andi Surahman Batara yang juga pengajar di Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Muslim Indonesia (FKM UMI) 

Fenomena ini sangat terasa ketika anggaran kesehatan di tingkat daerah seringkali terpinggirkan oleh proyek fisik yang dianggap lebih memiliki nilai elektoral.

Saya melihat literasi kebijakan menjadi 'imunitas' bagi sistem kesehatan agar tetap berpihak pada kemanusiaan.  

Buku ini juga memetakan peran aktor-aktor kunci, mulai dari legislatif hingga organisasi profesi, dalam membentuk wajah layanan kesehatan nasional.

Sumber: Tribun Manado
Halaman 1/2
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved