Jumat, 1 Mei 2026
Sulawesi Utara
Menuju Sulut Maju, Sejahtera dan Berkelanjutan

Hardiknas 2026

Refleksi Hardiknas: Ke Mana Arah Pendidikan Kita?

Setiap tanggal 2 Mei, di berbagai tempat, terutama dunia pendidikan rutin merayakan Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas).

Tayang:
Editor: Rizali Posumah
Istimewa/Dokumentasi Supriadi
SOSOK - Supriadi, S.Ag., M.Pd.I. Supriadi adalah Pengawas PAI Kementerian Agama Kota Manado, Ketua DPW AGPAII Prov. Sulawesi Utara). 

Ringkasan Berita:
  • Setiap tanggal 2 Mei, di berbagai tempat, terutama dunia pendidikan rutin merayakan Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas).
  • Negara mengakomodir peringatan ini dengan pelaksanaan upacara.
  • Ada jasa seorang tokoh Ki Hadjar Dewantara yang dikenang dengan semboyan legendarisnya, Ing Ngarsa Sung Tulada, Ing Madya Mangun Karsa, Tut Wuri Handayani.

 

Oleh: Supriadi, S.Ag., M.Pd.I.

(Pengawas PAI Kementerian Agama Kota Manado, Ketua DPW AGPAII Prov. Sulawesi Utara)

Setiap tanggal 2 Mei, di berbagai tempat, terutama dunia pendidikan rutin merayakan Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas).

Negara mengakomodir peringatan ini dengan pelaksanaan upacara.

Ada jasa seorang tokoh Ki Hadjar Dewantara yang dikenang dengan semboyan legendarisnya, Ing Ngarsa Sung Tulada, Ing Madya Mangun Karsa, Tut Wuri Handayani.

Namun, di luar seremoni upacara dan baju adat yang dikenakan, muncul sebuah pertanyaan besar di benak kita: Apa sesungguhnya tujuan yang ingin kita capai melalui pendidikan?

Apakah institusi pendidikan kita saat ini lebih berfungsi sebagai sekadar "lembaga pengajaran" ataukah telah menjelma menjadi "lembaga pendidikan" yang sesungguhnya? Ke mana sebenarnya arah pendidikan kita saat ini? Sungguh tidak mudah untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut.

Karenanya cukuplah untuk menjadi sebuah refleksi bagi para pemangku kebijakan dan mereka yang berada di garda terdepan pendidikan negeri ini.

Sejatinya pendidikan bukan sekadar "Ganti Kurikulum". Perkembangan dalam beberapa tahun terakhir, kita disibukkan dengan transformasi besar-besaran melalui Kurikulum Merdeka.

Secara regulasi, hal ini tertuang dalam Permendikbudristek No. 12 Tahun 2024 yang menetapkan Kurikulum Merdeka sebagai kurikulum nasional.

Arahnya jelas: ingin membuat pendidikan lebih fleksibel dan berfokus pada karakter siswa.

Namun, kita harus jujur, apakah kemerdekaan belajar ini sudah benar-benar sampai ke ruang-ruang kelas di pelosok negeri ini, termasuk Sulawesi Utara? Ataukah kita masih terjebak pada urusan administratif yang membuat guru lebih sibuk dengan aplikasi daripada menyapa hati para muridnya? Kembali menjadi sebuah pertanyaan reflektif untuk kita yang bergerak dalam dunia pendidikan.

Sebagai bagian dari dunia pendidikan di negeri ini, saya melihat sebuah tantangan besar.

Di tengah modernisasi dan digitalisasi, pendidikan kita jangan sampai kehilangan "ruh"-nya, yaitu akhlak.

Sumber: Tribun Manado
Halaman 1/2
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved