Selasa, 5 Mei 2026
Sulawesi Utara
Menuju Sulut Maju, Sejahtera dan Berkelanjutan

Opini

Orang Tua: Pendidik Pertama, Utama dan Terlama

Sejatinya peran yang melekat pada orang tua dalam pendidikan bertumpu pada tiga pilar.

Tayang:
Penulis: Arthur_Rompis | Editor: Dewangga Ardhiananta
Tribun Manado/Handout/Arianto Batara
OPINI - Arianto Batara, Kepala Balai Guru dan Tenaga Kependidikan Provinsi Sulawesi Utara. Orang Tua: Pendidik Pertama, Utama, dan Terlama. 

Ringkasan Berita:
  • Orang Tua: Pendidik Pertama, Utama dan Terlama
  • Sejatinya peran yang melekat pada orang tua dalam pendidikan bertumpu pada tiga pilar
  • Selamat Hari Pendidikan Nasional. Mari kita jadikan momentum ini untuk pulang ke rumah dan berkomitmen mengembalikan peran kita sebagai pendidik

Oleh: Arianto Batara, Kepala Balai Guru dan Tenaga Kependidikan Provinsi Sulawesi Utara

TRIBUNMANADO.CO.ID - Menggugat miskonsepsi mandat yang dimandatkan
merupakan pemandangan jamak setiap hari di gerbang-gerbang sekolah, kita menyaksikan (atau kita pelakunya) ritual rutin: orang tua mengantarkan anak-anak, menyerahkan tas punggung yang berat beserta perlengkapannya. Peristiwa ini merupakan peristiwa yang berbahaya jika sekaligus merupakan simbolisasi penyerahan tanggung jawab pendidikan buah hati dari orang tua kepada sekolah sebagai institusi.

Situasi masyarakat modern yang serba cepat, menghadirkan fenomena yang memprihatinkan pada sebagian keluarga, sekolah perlahan-lahan dianggap sebagai "bengkel" pendidikan. Orang tua datang membawa anak yang dianggap "kurang" secara akademis maupun karakter, dengan harapan sekolah akan mengembalikan dalam kondisi yang baik, dan memiliki prestasi akademik.

Namun, apakah pendidikan sepenuhnya dapat dimandatkan dari orang tua kepada sekolah? Pada kenyataannya, kita sedang menghadapi paradoks modernitas. Di era dengan akses terhadap informasi begitu mudah karena ketersediaan teknologi, kedekatan emosional antara orang tua dan anak justru sering kali mengalami distorsi. Tersitanya waktu untuk pemenuhan kebutuhan ekonomi dan adanya distraksi digital membuat peran orang tua tereduksi hanya sebagai penyedia kebutuhan (provider) dan pengantar jemput (driver). Sering kali orang tua melupakan bahwa sekolah hanyalah mitra; guru hanyalah fasilitator dalam durasi waktu yang tidak lama.

Sejatinya peran yang melekat pada orang tua dalam pendidikan bertumpu pada tiga pilar, yaitu:

Pendidik Pertama:

Sebelum anak mengenal alfabet dan numerik, mereka telah mengenal suara dan ekspresi wajah orang tua, terutama ibunya. Sebelum mereka belajar hukum fisika, mereka telah belajar hukum sebab-akibat melalui reaksi ayahnya. Rumah adalah sekolah pertama tempat fondasi karakter dan budaya diletakkan.

Pendidik Utama:

Nilai keyakinan hidup yang hakiki seperti kejujuran, integritas, keterbukaan dan empati tidak mungkin diajarkan hanya melalui rencana pelaksanaan pembelajaran semata. Nilai keyakinan ini mewarnai suasana di dalam rumah. Tanpa keterlibatan orang tua, pendidikan di sekolah hanya akan menjadi pemindahan ilmu pengetahuan tanpa pembentukan jiwa yang tulus.

Pendidik Terlama:

Guru di sekolah dapat berganti setiap tahun ajaran, kurikulum dapat berubah sejalan pergantian kebijakan, namun yang tetap adalah orang tua yang merupakan kurikulum sepanjang hayat dikandung badan. Orang tua akan mendampingi anak dalam fase kehidupan balita, remaja, hingga dewasa.

Menjalankan Peran sebagai Pendidik di Rumah

Menjalankan peran sebagai pendidik bukan berarti orang tua harus menguasai semua mata pelajaran dan mengajarkannya di rumah. Peran pendidik dalam hal ini lebih mendekati peran sebagai arsitek jiwa. Berikut adalah empat peran strategis yang harus diperankan kembali oleh orang tua:

1. Orang Tua sebagai Teladan Karakter (The Role Model)

Anak-anak adalah peniru yang ulung. Mereka mungkin pada beberapa kesempatan akan mengabaikan nasihat orang tuanya, tetapi mereka tidak pernah gagal meniru perilaku orang tua. Pendidikan karakter akan paling efektif diajarkan melalui keteladanan, bukan sekadar instruksi. Sebagai contoh: Jika kita ingin menanamkan budaya literasi agar anak tidak kecanduan gawai, maka orang tua harus menciptakan momen orang tua memegang (membaca) buku. Ketika anak melihat ayahnya membaca buku atau ibunya membaca novel dengan serius, situasi ini sedang mengirim pesan dalam ingatan mereka bahwa "membaca adalah aktivitas yang berharga, maka layak diperjuangkan".

Sumber: Tribun Manado
Halaman 1/2
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved