Opini
Pemimpin atau Penguasa?
Ketika politik kehilangan dimensi panggilan, yang tersisa hanyalah kompetisi kekuasaan. Jabatan menjadi tujuan, bukan sarana.
Menagih Peran Generasi Muda
Pesan GNB seharusnya tidak berhenti sebagai refleksi elite moral, tetapi menjadi bahan permenungan generasi muda. Para pemuda 1928 tidak menunggu sistem sempurna. Mereka bergerak dengan keterbatasan, tetapi dengan keberanian moral yang luar biasa.
Pertanyaan mendasarnya: apakah generasi hari ini masih memiliki keberanian etis yang sama? Di tengah budaya instan, politik viral, dan dominasi media sosial, keberanian moral sering kalah oleh kebutuhan popularitas. Padahal, kepemimpinan sejati sering justru lahir dari keputusan yang tidak populer.
Ki Hadjar Dewantara merumuskan tiga prinsip kepemimpinan: ing ngarso sung tulodo, ing madya mangun karso, tut wuri handayani. Ketiganya menegaskan bahwa inti kepemimpinan adalah keteladanan, bukan dominasi.
Merawat Nurani dalam Ruang Publik
Kehadiran Gerakan Nurani Bangsa, dengan tokoh-tokoh di atas adalah pengingat bahwa bangsa ini masih memiliki cadangan moral. Bahwa di tengah kebisingan politik, masih ada suara yang berbicara pelan tetapi jujur.
Pesan kebangsaan yang mereka sampaikan tidak menawarkan program politik teknis, tetapi menawarkan sesuatu yang lebih mendasar: arah moral. Dalam jangka panjang, arah moral jauh lebih menentukan daripada strategi politik sesaat.
Demokrasi bukan hanya soal prosedur, tetapi soal kualitas manusia yang menghidupinya. Pemilu yang jujur penting, tetapi lebih penting lagi adalah pemimpin yang jujur. Regulasi yang baik penting, tetapi lebih penting lagi adalah integritas mereka yang menjalankannya.
Epilog: Pertanyaan yang Tak Bisa Dihindari
Pesan “jadilah pemimpin, bukan penguasa” pada akhirnya bukan hanya ditujukan kepada elite politik, tetapi kepada seluruh warga bangsa. Setiap orang yang memiliki pengaruh – di birokrasi, kampus, media, organisasi masyarakat, bahkan di lingkungan keluarga – sedang menjalankan bentuk tertentu dari kepemimpinan.
Pertanyaannya sederhana tetapi mendalam: dalam ruang pengaruh kita masing-masing, apakah kita sedang menjadi pemimpin atau penguasa kecil? Apakah kita menggunakan posisi untuk melayani atau untuk mengontrol? Untuk membangun atau untuk mengamankan kepentingan diri?
Sejarah Indonesia dibangun oleh mereka yang setia pada nurani. Pesan GNB mengingatkan bahwa masa depan Indonesia juga akan ditentukan oleh pilihan moral yang sama: memilih jalan kepemimpinan yang melayani, bukan jalan kekuasaan yang mendominasi.
Dan mungkin, di atas fondasi tua Kongres Pemuda itu, bangsa ini sekali lagi diajak bercermin: apakah kita masih setia pada cita-cita para pendiri, atau justru sedang membangun kekuasaan di atas fondasi yang mulai kita lupakan. (*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/manado/foto/bank/originals/Herkulaus-Mety.jpg)