Minggu, 26 April 2026
Sulawesi Utara
Menuju Sulut Maju, Sejahtera dan Berkelanjutan

Catatan Wartawan

Siau: Harum Pala yang Magis hingga Ancaman Bencana

Dalam benak "penglalap" sejarah sepertiku, Siau adalah bagian terindah dari kejayaan masa silam orang-orang di utara Sulawesi.

|
Penulis: Rizali Posumah | Editor: Rizali Posumah
Tribun Manado/Rizali Posumah
SIAU - Makam Raja Siau Pertama, Datu Lokombanua di Paseng, Kecamatan Siau Barat, Kabupaten Sitaro, Provinsi Sulawesi Utara, Rabu 7 Januari 2026. 

Dalam benak "penglalap" sejarah sepertiku, Siau adalah bagian terindah dari kejayaan masa silam orang-orang di utara Sulawesi.

Dotu Lokombanua, Raja Posuma hingga Laksamana Hengkengunaung yang dengan nyali seorang Bahaning Nusa tak gentar menantang bedil dan meriam para prajurit dari dunia Barat.

Ketika orang menyebut Siau, yang tercium adalah harum pala yang magis.

Sebuah harta dunia di abad 14 hingga 17 masehi yang membuat armada laut eropa seperti Portugus, Spanyol hingga Belanda rela mabuk laut: menempuh bermil-mil jarak demi menguasainya. 

Menguji nyali suku-suku petarung di Timur Nusantara.

Namun ralitas menamparku, ketika pertama kali menginjakkan kaki di pulau ini Selasa (6/1/2026).

Aku tersadar, bahwa Siau, bukan hanya pulau yang memancarkan pesona, melainkan juga pulau yang memikul beban potensi bencana.

Siau beserta pulau-pulau dalam gugusan Kepulauan Sitaro dikepung oleh berbagai lempeng tektonik seperti Lempeng Pasifik, Lempeng Eurasia hingga Lempeng Filipina 

Selain lempeng besar, Sitaro, termasuk Siau di dalamnya berada di jalur tabrakan lempeng mikro yang sangat aktif seperti Lempeng Laut Maluku.

Praktis, secara geologis, wilayah ini merupakan salah satu kawasan tektonik paling kompleks di dunia. Rawan gempa dan berpotensi tsunami jika terjadi patahan tektonik.

Belum lagi gunung Karangetan, salah satu gunung berapi paling aktif di Indonesia, yang sekali-kali dapat memuntahkan laharnya. 

Sekali-kali dapat mengancam jika memuntahkan laharnya. Sering, saat malam warga menyaksikan kedipan cahaya yang nampak dari puncaknya. 

Topografi Pulau yang berjarak sekitar 101 mil dari Manado, Ibu Kota Provinsi Sulawesi Utara ini didominasi perbukitan dan pegunungan dengan kemiringan yang curam. 

Jika terjadi hujan, dengan intensitas yang tinggi dan lama, air yang mengalir dari atas perbukitan Siau bakal berubah menjadi bencana.

Aliran sungai di Siau memang ada, tapi semuanya kering.

Sumber: Tribun Manado
Halaman 1/2
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

Berita Populer

Musafir Jurnalis

 

Otak Dangkal di Lautan Digital

 

Paskah dan Jeruji Besi

 
© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved