Catatan Seorang Jurnalis
Musafir Jurnalis
Di 2026 ini, saya bersyukur pada Tuhan, karena bisa menyantap roti dan anggur sembari mengikuti liturgi ibadah secara utuh.
Penulis: Arthur_Rompis | Editor: Rizali Posumah
Entah bagaimana khotbah Pdt Stephen Tong membuat saya teringat pada ayah saya - saya mengimani kini ia tengah
bersama Kristus di Firdaus.
Suatu waktu, di kala masih berusia belasan, saya mendatangi ayah dan mengeluarkan ultimatum.
"Mulai sekarang saya sudah tidak percaya pada Yesus, kalau Ia Tuhan mengapa orang benar sengsara dan orang jahat bahagia," katanya.
Ayah yang adalah seorang Penatua terdiam sejenak.
Ia menasehati saya.
"Selama ada pintu tobat, bertobatlah," kata dia.
Saya berkeras hati.
"Saya akan doakan kamu" kata ayah.
Malamnya saya terbangun dari tidur dan mendengar suara tangisan di ruang tamu.
Ternyata ayah tengah mendoakan saya dengan suara bergetar karena haru.
Saya sudah melupakan momen itu hingga ia datang di saat khotbah pak Tong dalam Jumat Agung.
Air mata saya menetes. Akhirnya saya menyadari, air mata itu adalah jawaban dari doa ayah saya.
Saya adalah orang terkutuk, hina, pendosa, munafik, penghujat Tuhan - seorang pecundang di balik kegagahan lensa.
Tapi oleh salib itu, saya ditebus, diangkat, dilayakkan.
Saya tak pernah berpikir akan berada di sini, dalam persekutuan ala puritan dan mengumandangkan Haleluyah Handel di tengah ribuan orang.
Jurnalisme saya dulunya adalah mesin perusak.
Tapi oleh salib itu, jurnalisme menjadi alat penebusan dunia.
Pada akhirnya, bukan saya yang menemukan roti dan anggur itu.
Tapi Kristus yang tak pernah berhenti menemukan saya, bahkan ketika saya sedang tersesat di jalan yang paling jauh. (Arthur Rompis)
Baca Berita Tribun Manado di Google News
WhatsApp TribunManado.co.id : KLIK
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/manado/foto/bank/originals/VIA-DOLOROSA-Mengikuti-Perjamuan-Kudus-pada-Jumat-AgungU7U8.jpg)