Catatan Seorang Jurnalis
Musafir Jurnalis
Di 2026 ini, saya bersyukur pada Tuhan, karena bisa menyantap roti dan anggur sembari mengikuti liturgi ibadah secara utuh.
Penulis: Arthur_Rompis | Editor: Rizali Posumah
Ringkasan Berita:
- Di 2026 ini, saya bersyukur pada Tuhan, karena bisa menyantap roti dan anggur sembari mengikuti liturgi ibadah secara utuh.
- Ini kemewahan bagi saya sebagai seorang Jurnalis yang tidak mengenal waktu libur.
- Saya mengucap syukur pada Tuhan.
Mengikuti Perjamuan Kudus pada Jumat Agung, sambil tetap menjalankan profesi sebagai jurnalis? Itu hal yang sulit.
Tapi bukan berarti tak mungkin.
Pernah, saya beroleh penugasan di tempat yang jauh dari Gereja lokal saya.
Asyik meliput, tak terasa sudah hampir pukul 6 sore
Ini jam deadline perjamuan.
Biasanya ibadah perjamuan dimulai pukul 3 sore.
Kembali ke gereja tempat saya biasa beribadah sudah tak mungkin.
Jalan satu - satunya adalah cari gereja di jalan.
Ada banyak gereja, tapi tak semua cocok.
Maksudnya dengan para musafir jurnalis seperti saya, yang tidak ikut ibadah penuh, tapi ingin makan roti
dan anggur perjamuan.
Di saat saya sudah hampir putus asa, gereja yang saya cari akhirnya ketemu.
Yakni sebuah gereja besar di Jalan Samrat.
Dan beruntung saya punya ordal di sana.
Salah satu pendeta pelayanannya adalah kenalan saya.
Ia langsung menyilahkan saya masuk antrian, bahkan memberikan posisinya pada saya.
Jadilah saya bisa nyelonong tanpa jadi pusat perhatian.
Tahun depannya, situasi yang sama terjadi dan kali ini eksekusinya kurang mulus.
Saya dan seorang teman saya tiba di sebuah gereja yang tak kami kenal dan ibadah sudah hampir berakhir.
Saya bermohon pada seorang penatua untuk ikut perjamuan. Ia menyilahkan.
Masalahnya, saya dan teman saya adalah orang terakhir.
Kami maju saja.
Di bawah tatapan ratusan jemaat yang memandang heran, kami berdua maju ke depan, mengambil roti dan anggur dan menyantapnya.
Malunya sejuta.
Tapi saya telan saja dengan berkilo-kilo rasa syukur.
Pantang bagi saya melewatkan roti dan anggur dalam Jumat Agung
"Lebih baik malu dari pada berdosa," kata saya pada teman yang merasa agak tak enak.
Di 2026 ini, saya bersyukur pada Tuhan, karena bisa menyantap roti dan anggur sembari mengikuti liturgi ibadah secara utuh.
Ini kemewahan bagi saya sebagai seorang Jurnalis yang tidak mengenal waktu libur.
Saya mengucap syukur pada Tuhan.
Entah bagaimana khotbah Pdt Stephen Tong membuat saya teringat pada ayah saya - saya mengimani kini ia tengah
bersama Kristus di Firdaus.
Suatu waktu, di kala masih berusia belasan, saya mendatangi ayah dan mengeluarkan ultimatum.
"Mulai sekarang saya sudah tidak percaya pada Yesus, kalau Ia Tuhan mengapa orang benar sengsara dan orang jahat bahagia," katanya.
Ayah yang adalah seorang Penatua terdiam sejenak.
Ia menasehati saya.
"Selama ada pintu tobat, bertobatlah," kata dia.
Saya berkeras hati.
"Saya akan doakan kamu" kata ayah.
Malamnya saya terbangun dari tidur dan mendengar suara tangisan di ruang tamu.
Ternyata ayah tengah mendoakan saya dengan suara bergetar karena haru.
Saya sudah melupakan momen itu hingga ia datang di saat khotbah pak Tong dalam Jumat Agung.
Air mata saya menetes. Akhirnya saya menyadari, air mata itu adalah jawaban dari doa ayah saya.
Saya adalah orang terkutuk, hina, pendosa, munafik, penghujat Tuhan - seorang pecundang di balik kegagahan lensa.
Tapi oleh salib itu, saya ditebus, diangkat, dilayakkan.
Saya tak pernah berpikir akan berada di sini, dalam persekutuan ala puritan dan mengumandangkan Haleluyah Handel di tengah ribuan orang.
Jurnalisme saya dulunya adalah mesin perusak.
Tapi oleh salib itu, jurnalisme menjadi alat penebusan dunia.
Pada akhirnya, bukan saya yang menemukan roti dan anggur itu.
Tapi Kristus yang tak pernah berhenti menemukan saya, bahkan ketika saya sedang tersesat di jalan yang paling jauh. (Arthur Rompis)
Baca Berita Tribun Manado di Google News
WhatsApp TribunManado.co.id : KLIK
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/manado/foto/bank/originals/VIA-DOLOROSA-Mengikuti-Perjamuan-Kudus-pada-Jumat-AgungU7U8.jpg)