Catatan Seorang Jurnalis
Musafir Jurnalis
Di 2026 ini, saya bersyukur pada Tuhan, karena bisa menyantap roti dan anggur sembari mengikuti liturgi ibadah secara utuh.
Penulis: Arthur_Rompis | Editor: Rizali Posumah
Ia langsung menyilahkan saya masuk antrian, bahkan memberikan posisinya pada saya.
Jadilah saya bisa nyelonong tanpa jadi pusat perhatian.
Tahun depannya, situasi yang sama terjadi dan kali ini eksekusinya kurang mulus.
Saya dan seorang teman saya tiba di sebuah gereja yang tak kami kenal dan ibadah sudah hampir berakhir.
Saya bermohon pada seorang penatua untuk ikut perjamuan. Ia menyilahkan.
Masalahnya, saya dan teman saya adalah orang terakhir.
Kami maju saja.
Di bawah tatapan ratusan jemaat yang memandang heran, kami berdua maju ke depan, mengambil roti dan anggur dan menyantapnya.
Malunya sejuta.
Tapi saya telan saja dengan berkilo-kilo rasa syukur.
Pantang bagi saya melewatkan roti dan anggur dalam Jumat Agung
"Lebih baik malu dari pada berdosa," kata saya pada teman yang merasa agak tak enak.
Di 2026 ini, saya bersyukur pada Tuhan, karena bisa menyantap roti dan anggur sembari mengikuti liturgi ibadah secara utuh.
Ini kemewahan bagi saya sebagai seorang Jurnalis yang tidak mengenal waktu libur.
Saya mengucap syukur pada Tuhan.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/manado/foto/bank/originals/VIA-DOLOROSA-Mengikuti-Perjamuan-Kudus-pada-Jumat-AgungU7U8.jpg)