Catatan Seorang Jurnalis
Sehidup Semati, Abadi dalam Kristus
Eva pergi dalam damai. Seperti lilin yang habis terbakar. Sedang Leo seakan tahu, bahwa sang istri tak bisa jalan sendiri menuju Firdaus.
Penulis: Arthur_Rompis | Editor: Gryfid Talumedun
SEHIDUP semati.
Janji yang sering terucap dalam sukacita altar pernikahan itu, terkadang hanya rangkaian kata indah.
Namun di Desa Watutumou, Kecamatan Kalawat, Kabupaten Minut, provinsi Sulut, janji itu menjelma nyata dalam sebuah kesederhanaan yang agung.
Sepasang suami istri, Penatua Leonard Matheis Sahuburua (57) dan Diaken Ninerva Andilolo (52), berpulang dalam waktu yang sangat berdekatan, hanya berselang dua jam.
Ninerva Andilolo, yang akrab disapa Eva dan dikenal sebagai Pelsus (Diaken) Kolom 4 Jemaat GMIM Eben Haezer Watutumou, meninggal dunia pada Sabtu (28/3/2026) sekitar pukul 00.01 WITA.
Selang dua jam kemudian, sang suami tercinta, Leonard Sahuburua atau Leo, yang juga menjabat sebagai Ketua Komisi Aset Gereja dan UPD Kolom, menyusul berpulang pada Minggu (29/3/2026) sekitar pukul 02.00 WITA.
Eva pergi dalam damai.
Seperti lilin yang habis terbakar.
Sedang Leo seakan tahu, bahwa sang istri tak bisa jalan sendiri menuju Firdaus.
Duka mendalam menyelimuti rumah keluarga di Perumahan Maumbi Indah, Watutumou.
Sejak kabar kepergian keduanya tersebar, warga terus berdatangan untuk melayat dan mengenang jejak pelayanan pasangan tersebut.
Peristiwa langka ini pun dimaknai dengan iman oleh warga.
Banyak yang meyakini bahwa keduanya kini telah bersama di sisi Yesus Kristus.
Suasana duka terasa kian mendalam.
Langit yang sebelumnya cerah tampak mendung, seolah turut berbelasungkawa.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/manado/foto/bank/originals/Penatua-Leonard-Matheis-Sahuburua-57-dan-Diaken-Ninerva-Andilolo-52-berpulang.jpg)