Opini
Paskah Nasional di Tengah Tarik-Menarik Kuasa
Penyelenggaraan Paskah Nasional 2026 di Sulawesi Utara merupakan sebuah kehormatan sekaligus ujian.
Pertaruhan Reputasi dan Kepemimpinan Nasional
Dalam konteks yang lebih luas, penyelenggaraan Paskah Nasional juga menjadi bagian dari pertaruhan reputasi kepemimpinan nasional. Sebagai presiden, figur kepala negara tidak hanya dinilai dari kebijakan ekonomi atau politik, tetapi juga dari kemampuannya menjaga harmoni sosial dan menghormati keberagaman.
Keterkaitan personal atau kultural dengan suatu daerah dapat menjadi kekuatan, tetapi juga risiko jika tidak dikelola dengan bijak. Publik akan menilai apakah kepemimpinan tersebut mampu menjaga jarak yang sehat antara kekuasaan dan institusi keagamaan.
Menjaga Kesucian di Tengah Kompleksitas
Pada akhirnya, tantangan terbesar adalah tentang menjaga kesucian makna Paskah di tengah kompleksitas realitas sosial-politik. Ini bukan tugas yang mudah, tetapi bukan pula mustahil.
Panitia memiliki tanggung jawab moral untuk memastikan bahwa seluruh proses penyelenggaraan berorientasi pada nilai-nilai spiritual, bukan kepentingan sempit. Gereja dan tokoh agama perlu mengambil peran sebagai penyeimbang, menjaga agar perayaan ini tetap berada pada relnya.
Paskah adalah tentang kebangkitan – bukan hanya secara teologis, tetapi juga secara moral dan sosial. Ia mengajak semua pihak untuk bangkit dari praktik-praktik yang tidak adil, dari egoisme, dan dari penyalahgunaan kekuasaan.
Jika Paskah Nasional 2026 mampu menjadi ruang refleksi dan transformasi, maka ia tidak hanya akan menjadi sukses secara seremonial, tetapi juga bermakna secara substantif. Dan di situlah, reputasi bukan hanya terjaga, tetapi dimuliakan – karena berakar pada kebenaran dan keadilan. (*)
| Kampus Bukan Pabrik |
|
|---|
| Bahasa yang Ditinggalkan: Ketika Sastra Tak Lagi Menjadi Rumah Berpikir di Sekolah |
|
|---|
| Otokritik atas Turunnya Posisi Manado dalam Indeks Kota Toleran |
|
|---|
| Hari Kartini dan Tantangan Demokrasi di Bumi Nyiur Melambai |
|
|---|
| Ketika AI Semakin Akurat dari Dokter: Apa yang Terjadi pada Profesi Medis dan Kemanusiaan? |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/manado/foto/bank/originals/Hery-Mety-Sketsa.jpg)