Opini
Kembali kepada Allah, Merajut Relasi Bangsa
BKSN 2025 menekankan bahwa iman Katolik bukan sekadar hubungan pribadi dengan Allah, tetapi juga menyangkut cara membangun relasi sosial.
Oleh:
Herkulaus Mety, S.Fils, M.Pd
Alumnus STF Seminari Pineleng dan IAIN Manado
SETIAP bulan September, Gereja Katolik di seluruh Indonesia memasuki Bulan Kitab Suci Nasional (BKSN). Tahun 2025 ini, Konferensi Waligereja Indonesia (KWI) menetapkan tema: “Allah Sumber Pembaruan Relasi dalam Hidup”, dengan sub tema, “Kembalilah kepada-Ku, maka Aku akan kembali kepadamu” (lih. Mal 3:7). Tema ini diangkat dari inspirasi Kitab Zakharia dan Kitab Maleakhi – dua nabi kecil yang berbicara pada masa penuh gejolak, ketika bangsa Israel menghadapi krisis iman, retaknya relasi, dan rapuhnya kehidupan bersama.
Konteks ini terasa relevan dengan kondisi Indonesia saat ini. Kita sedang menghadapi krisis politik, polarisasi masyarakat, dan rapuhnya kepercayaan publik pada pemimpin. Dalam situasi seperti ini, panggilan “kembali kepada Allah” bukan hanya seruan rohani, melainkan undangan profetis untuk memperbarui relasi, merekatkan kebersamaan, dan menghidupkan kembali keadaban publik yang nyaris terkoyak.
Tulisan ini hendak mengajak umat Katolik dan masyarakat Indonesia merenungkan implikasi dan relevansi tema BKSN 2025 dalam terang Kitab Suci, filsafat relasi, serta realitas sosial-politik bangsa.
Allah sebagai Sumber Relasi
Dalam tradisi biblis, Allah tidak pernah digambarkan sekadar sebagai kekuatan kosmik atau penguasa jauh yang tak terjangkau. Allah adalah Sumber Relasi, yang hadir, menyapa, dan mengikat perjanjian dengan umat-Nya. Kitab Zakharia menggambarkan Allah sebagai pusat pemulihan bangsa, yang akan kembali tinggal di tengah umat-Nya: “Aku akan kembali ke Sion dan akan diam di Yerusalem” (Za 8:3). Sementara itu, Kitab Maleakhi menegaskan bahwa krisis bangsa berawal dari rusaknya relasi dengan Allah. Karena itu, Allah berseru: “Kembalilah kepada-Ku, maka Aku akan kembali kepadamu” (Mal 3:7).
Relasi dengan Allah selalu berbuah pada relasi sosial. Nabi Maleakhi mengecam para imam yang mengkhianati perjanjian (Mal 2:8) serta umat yang menindas sesama. Dengan kata lain, krisis spiritual akan selalu berdampak pada krisis sosial. Inilah yang sangat relevan dengan situasi Indonesia kini – ketika kepentingan egoistik dan haus kuasa merusak kepercayaan dan meretakkan persaudaraan.
Filsafat Relasi: Dari “Aku-Itu” ke “Aku-Engkau”
Filsuf Yahudi, Martin Buber, dalam karya klasiknya I and Thou (1923), menjelaskan bahwa ada dua cara manusia berelasi. Pertama, relasi “Aku – Itu” yang bersifat instrumental, di mana orang lain diperlakukan sekadar objek. Kedua, relasi “Aku – Engkau”, yang sejati dan dialogis, di mana manusia menghormati sesama sebagai pribadi utuh.
Dalam perspektif iman Katolik, relasi “Aku – Engkau” inilah yang dimungkinkan oleh Allah sebagai sumber kasih. Paus Fransiskus dalam ensiklik Fratelli Tutti (2020) menegaskan bahwa dunia yang terpecah hanya dapat dipulihkan dengan membangun persaudaraan sejati, melampaui sekat agama, suku, dan ideologi.
Dengan demikian, BKSN 2025 mengingatkan umat Katolik untuk memperbarui kualitas relasi – baik dengan Allah maupun sesama. Ini bukan sekadar relasi seremonial, melainkan keterbukaan yang menghadirkan kasih, kejujuran, dan solidaritas.
Implikasi bagi Umat Katolik Indonesia
1. Pertobatan Relasional
BKSN 2025 menekankan bahwa iman Katolik bukan sekadar hubungan pribadi dengan Allah, tetapi juga menyangkut cara membangun relasi sosial. Seruan “kembalilah kepada-Ku” berarti juga kembali kepada kasih, keadilan, dan solidaritas. Umat Katolik dipanggil untuk mengoreksi sikap-sikap yang mengabaikan sesama – baik dalam keluarga, komunitas, maupun masyarakat luas.
2. Gereja sebagai Teladan Integritas
Maleakhi mengkritik para imam yang merusak perjanjian karena ingkar pada tugasnya (Mal 2:8). Pesan ini juga relevan bagi Gereja saat ini: Gereja harus memberi teladan integritas, transparansi, dan keberpihakan pada kebenaran. Di tengah krisis politik dan praktik korupsi, Gereja tidak boleh larut, tetapi hadir sebagai cahaya yang menunjukkan jalan kebenaran.
3. Spiritualitas Rekonsiliasi
Umat Katolik Indonesia dipanggil menjadi agen rekonsiliasi. Dalam masyarakat yang terbelah oleh politik dan identitas, kita dipanggil untuk menjadi “penjembatan”. Inspirasi dari Zakharia tentang pemulihan Yerusalem mengajak kita untuk merekatkan yang retak dan membangun ruang aman bagi dialog lintas perbedaan.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/manado/foto/bank/originals/Hery-Mety-Sketsa.jpg)