Opini
Kembali kepada Allah, Merajut Relasi Bangsa
BKSN 2025 menekankan bahwa iman Katolik bukan sekadar hubungan pribadi dengan Allah, tetapi juga menyangkut cara membangun relasi sosial.
4. Harapan yang Menghidupkan
BKSN adalah saat istimewa untuk meneguhkan kembali harapan. Di tengah kecemasan bangsa, Sabda Allah memberi keyakinan bahwa Allah tidak meninggalkan umat-Nya. Umat Katolik diundang mewartakan harapan ini melalui kesaksian hidup yang penuh kasih, bukan sekadar retorika.
Relevansi BKSN bagi Bangsa Indonesia
Tema BKSN tahun ini sesungguhnya memiliki daya profetis untuk seluruh bangsa Indonesia. Ketika bangsa ini tengah mengalami krisis politik, erosi moral publik, dan retaknya persaudaraan, panggilan “kembalilah kepada-Ku” dapat dimaknai sebagai ajakan moral-spiritual yang menyejukkan.
1. Bagi Para Pemimpin Bangsa
Para pemimpin politik dipanggil untuk kembali kepada nurani, menjadikan jabatan sebagai sarana pelayanan, bukan alat kekuasaan. Bung Karno pernah menegaskan: “Jangan sekali-kali meninggalkan sejarah”. Sejarah bangsa ini dibangun dengan pengorbanan, bukan kerakusan.
2. Bagi Masyarakat
Masyarakat luas diajak untuk tidak larut dalam polarisasi. Gus Dur pernah berkata: “Tidak penting apa agamamu, kalau kamu bisa melakukan sesuatu yang baik bagi semua orang, orang tidak akan tanya apa agamamu.” Pesan ini sejalan dengan BKSN: iman sejati diwujudkan dalam kasih dan kepedulian nyata.
3. Bagi Komunitas Agama
Komunitas beriman, termasuk Gereja Katolik, harus tampil sebagai perekat bangsa. Paus Fransiskus mengingatkan dalam Evangelii Gaudium (2013) bahwa Gereja dipanggil keluar dari zona nyaman dan menjadi “Gereja yang berbau domba” – yakni hadir di tengah rakyat yang terluka.
Krisis Politik dan Krisis Relasi
Indonesia sedang menghadapi ujian besar. Polarisasi politik, hoaks, ujaran kebencian, serta kepentingan sempit menggerus rasa kebangsaan. Retaknya relasi sosial semakin terlihat: solidaritas melemah, kecurigaan antar kelompok meningkat, dan kepentingan pribadi kerap mengalahkan kepentingan bersama.
Situasi ini mengingatkan pada nubuat Maleakhi yang menggambarkan umat yang kehilangan arah karena mengabaikan Allah dan menindas sesamanya. Dalam bahasa modern, krisis politik Indonesia sesungguhnya adalah krisis relasi: relasi antara rakyat dan pemimpin, antar warga bangsa, bahkan antara manusia dengan nuraninya sendiri.
Refleksi Humanis-Teologis
Kembali kepada Allah berarti kembali kepada akar kemanusiaan: kasih, kebenaran, dan keadilan. Relasi dengan Allah tidak bisa dipisahkan dari relasi dengan sesama. Yesus sendiri menegaskan hukum kasih yang terbesar: “Kasihilah Tuhan Allahmu dengan segenap hatimu… dan kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri” (Mat 22:37-39).
BKSN 2025 meneguhkan bahwa Sabda Allah harus diterjemahkan dalam tindakan konkret: memperjuangkan keadilan sosial, membangun solidaritas lintas agama, serta menghadirkan pengharapan di tengah kegelapan. Dengan demikian, iman Katolik bukan sekadar doa dan liturgi, melainkan praksis cinta kasih yang membarui dunia.
Penutup: Merajut Relasi Bangsa
Tema BKSN 2025, “Allah Sumber Pembaruan Relasi dalam Hidup”, dengan seruan “kembalilah kepada-Ku”, mengingatkan umat Katolik Indonesia bahwa iman adalah perjalanan relasional. Allah memanggil kita untuk kembali, bukan hanya dalam doa, tetapi juga dalam sikap hidup yang merekatkan persaudaraan.
Di tengah krisis politik dan sosial, umat Katolik diajak menjadi garam dan terang: menghadirkan kasih, kejujuran, dan harapan. Dengan demikian, BKSN 2025 bukan hanya memperbarui kehidupan rohani umat, tetapi juga memberi kontribusi nyata bagi bangsa Indonesia yang sedang mencari arah.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/manado/foto/bank/originals/Hery-Mety-Sketsa.jpg)