Kamis, 23 April 2026
Sulawesi Utara
Menuju Sulut Maju, Sejahtera dan Berkelanjutan

Opini

Budaya Bantik di Tengah Perubahan Zaman

Budaya Bantik kian terancam. Tradisi turun temurun tidak lagi dipraktikkan. Beberapa tradisi menjelang punah bahkan sudah punah.

|
Dokumentasi Pribadi
Jashinta Pricilia Angela Tuela, Mahasiwa Sekolah Tinggi Filsafat Seminari Pineleng 

Hinglridan yang berarti “baku-baku sayang” atau saling mencintai, saling menghargai, saling tolong-menolong.

Hingtakinan yang berarti saling mengingatkan.

Hingtalunan yang berarti “seia-sekata”, kompak, tidak berjalan sendiri sendiri dan semaunya sendiri.

Dalam kehidupan sosial kemasyarakatan, orang Bantik juga membentuk organisasi. Di Buha, misalnya, ada Lembaga Adat Masyarakat Adat Bantik. Perkumpulan ini membawahi rukun duka dan kesenian. Semua orang Bantik wajib menjadi anggota perkumpulan itu. Akan tetapi perkumpulan itu tidak diperuntukkan bagi orang Bantik saja. Siapa saja bisa menjadi anggota perkumpulan itu. Di Buha, misalnya, ada orang Sangir dan orang Minahahasa yang menjadi anggota perkumpulan tersebut.

Akhirul Kalam

Di Kelurahan Buha, orang Bantik merupakan kelompok minoritas. Mereka hidup di tengah-tengah suku lain. Bahkan orang Bantik juga menikah dan membangun keluarga dengan orang dari suku lain. Anak-anak mereka sudah tidak mengenal adat dan budaya Bantik. Akan tetapi dalam keluarga yang kedua orang tuanya adalah suku Bantik dan masih berbahasa Bantik di rumah, anak-anaknya masih mengerti bahasa Bantik walaupun sudah tidak fasih berbicara.
Banyak tradisi Bantik yang sudah tidak dipraktikkan lagi, mulai dari adat-istiadat yang terkait dengan kelahiran sampai adat-istiadat yang terkait dengan kematian. (*)

Sumber: Tribun Manado
Halaman 4/4
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved