Opini
Budaya Bantik di Tengah Perubahan Zaman
Budaya Bantik kian terancam. Tradisi turun temurun tidak lagi dipraktikkan. Beberapa tradisi menjelang punah bahkan sudah punah.
Oleh:
Jashinta Pricilia Angela Tuela
Mahasiswa Sekolah Tinggi Filsafat Seminari Pineleng
KEBERADAAN dan kehidupan orang Bantik hampir tidak pernah menjadi pokok pembicaraan khusus di tengah masyarakat. Mungkin karena mereka bukanlah pendatang baru atau orang asing di tengah masyarakat Sulawesi Utara. Mereka merupakan bagian utuh dari masyarakat di sekitarnya.
Tulisan tentang budaya orang Bantik ini dibuat berdasarkan studi atas beberapa literatur dan wawancara dengan Ibu Vivi, Bapak Alex dan Bapak Wahyu. Mereka adalah orang-orang yang memahami kehidupan orang Bantik.
Orang Bantik
Orang Bantik kadang dikelompokkan sebagai satu suku tersendiri dan kadang dianggap sub-suku atau bagian dari Suku Minahasa. Dari segi warna kulit, orang Bantik memang kelihatan agak berbeda dari orang Minahasa pada umumnya.
Asal-usul orang Bantik tidak diketahui dengan pasti. Ada yang mengatakan bahwa orang Bantik adalah penduduk asli Manado dan sekitarnya, tetapi pada suatu waktu – entah karena alasan apa – mereka berpindah ke sebuah pulau di kepulauan Sangir. Akan tetapi pulau itu tenggelam akibat naiknya permukaan air laut. Sebelum pulau itu tenggelam sepenuhnya, orang Bantik kembali ke daerah Manado dan sekitarnya.
Informasi lain mengatakan bahwa orang Bantik adalah penduduk asli sebuah pulau di kepulauan Sangir. Pada suatu waktu di sana terjadi perang antar-suku. Orang Bantik melarikan diri dan kemudian menetap di daerah Manado dan sekitarnya.
Tidak bisa diketahui dengan pasti informasi mana yang benar karena tidak ada atau belum ditemukan sumber-sumber sejarah yang meyakinkan mengenai asal-usul orang Bantik. Yang ada adalah tradisi lisan yang diceritakan turun-temurun.
Sekarang ini kebanyakan orang Bantik tinggal di Malalayang, Singkil, Bailang, Molas, Meras, Buha dan Bengkol (semuanya di Kota Manado), Kalasey (Kecamatan Pineleng, Kabupaten Minahasa), Talawaan Bantik (Kecamatan Wori, Kabupaten Minahasa Utara), dan Tanamon (Kecamatan Poigar, Kabupaten Bolaang Mongondow). Banyak dari antara mereka sudah kawin-mawin dengan orang-orang dari sub-suku Minahasa lainnya atau dengan suku bangsa lain.
Orang Bantik yang menjadi pahlawan nasional adalah Wolter Mongisidi. Oleh orang Bantik, dia sangat dihormati. Pada peringatan hari kematiannya, yaitu 5 September, diadakan acara khusus untuk menghormatinya.
Di bawah ini akan ditunjukkan beberapa elemen kebudayaan Bantik.
Kebudayaan, menurut Harsojo, adalah hasil keseluruhan yang kompleks, yang di dalamnya terkandung ilmu pengetahuan, kepercayaan, kesenian, moral, hukum adat-istiadat dan kemampuan yang lain serta kebiasaan yang didapat oleh manusia sebagai anggota masyarakat. Oleh karena itu, yang akan dipaparkan di bawah ini adalah bahasa Bantik, tradisi Bantik dalam siklus kehidupan (kelahiran, perkawinan dan kematian) dan beberapa hal khusus dalam kehidupan sehari-hari orang Bantik.
Bahasa Bantik
Bahasa Bantik lebih memiliki kemiripan dengan bahasa Sangir daripada dengan bahasa Minahasa. Contohnya, bahasa Bantik bu’ha memiliki arti yang sama dengan bahasa Sangir buha, yang berarti 'gosok' atau 'menggosok'.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/manado/foto/bank/originals/Jashinta-Pricilia-Angela-Tuela-Mahasiwa-Sekolah-Tinggi-Filsafat-Seminari-Pineleng.jpg)