Rabu, 29 April 2026
Sulawesi Utara
Menuju Sulut Maju, Sejahtera dan Berkelanjutan

Paskah 2026

Refleksi Jumat Agung: Paradoks Kebenaran Absolutisme vs Relativisme

Pertanyaan Pilatus kepada Yesus mengenai "Apa itu kebenaran?" saat proses pengadilan menjadi pertanyaan sepanjang masa.

Penulis: Arthur_Rompis | Editor: Rizali Posumah
Istimewa/Dokumentasi Ferdinand Dumais
SOSOK - Ferdinand Dumais. Ia adalah anggota DPRD Kota Manado periode 2024–2029 

Ringkasan Berita:
  • Pertanyaan Pilatus kepada Yesus mengenai "Apa itu kebenaran?" saat proses pengadilan menjadi pertanyaan sepanjang masa. 
  • Dialog antara Yesus dan Pilatus bukan sekadar prosedur hukum, melainkan dialog paling fundamental dalam sejarah pemikiran teologi dan filsafat dunia.
  • Namun, kebenaran apa yang sebenarnya dimaksudkan oleh Yesus dan Pilatus? Bagaimana konteksnya dalam realitas kehidupan kita hari ini?

 

Oleh: Ferdinand Dumais, Anggota DPRD Kota Manado periode 2024–2029

Pertanyaan Pilatus kepada Yesus mengenai "Apa itu kebenaran?" saat proses pengadilan menjadi pertanyaan sepanjang masa. 

Dialog antara Yesus dan Pilatus bukan sekadar prosedur hukum, melainkan dialog paling fundamental dalam sejarah pemikiran teologi dan filsafat dunia.

Namun, kebenaran apa yang sebenarnya dimaksudkan oleh Yesus dan Pilatus? Bagaimana konteksnya dalam realitas kehidupan kita hari ini?

Diskursus ini mendaraskan dua jenis kebenaran: Kebenaran Absolut dan Kebenaran Relatif. Keduanya menyandang status "kebenaran", namun metode berpikir yang berbeda menjadikannya sebuah paradoks. Kebenaran yang Mutlak "digugat" oleh kebenaran Relatif; Kebenaran Induk diganggu oleh turunannya; dan Kebenaran Ilahi dipertanyakan oleh kebenaran manusiawi.

Paradoks ini terlihat dalam beberapa poin berikut:

Kebenaran yang Tak Setara: Yesus menyatakan kebenaran yang datang dari Allah (Kebenaran Mutlak).

Sebaliknya, pertanyaan Pilatus, "Apa itu kebenaran?" (Yohanes 18:38), mencerminkan pandangan pragmatis, relatif, dan politis.

Kepentingan Politik vs. Nurani: Meski Pilatus menyadari Yesus tidak bersalah, ia menyerah pada tekanan publik.

Di sini, kebenaran sesungguhnya dikalahkan oleh kepentingan kekuasaan yang berujung pada vonis penyaliban.

Dua Kerajaan yang Berbenturan: Yesus mewakili Kerajaan Surgawi yang berlandaskan hukum cinta kasih, sementara Pilatus mewakili Kerajaan Dunia (Roma) yang mengandalkan kekuatan fisik.

Pilatus menggunakan kekuasaan untuk mempertahankan status quo, sedangkan Yesus menggunakan ketaatan untuk menunjukkan kebenaran.

Ironi Barabas: Yesus, Sang Kebenaran, disalibkan; sementara Barabas, seorang pemberontak, dibebaskan.

Ada paradoks nama di sini: Bar-Abba dalam bahasa Aram berarti "Anak Bapa". Pilatus menyamakan Sang Putra Bapa yang sejati dengan "anak bapa" yang merupakan penjahat demi memuaskan massa.

Sumber: Tribun Manado
Halaman 1/3
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

Berita Populer

Musafir Jurnalis

 

Otak Dangkal di Lautan Digital

 
© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved