Kamis, 23 April 2026
Sulawesi Utara
Menuju Sulut Maju, Sejahtera dan Berkelanjutan

Opini

Budaya Bantik di Tengah Perubahan Zaman

Budaya Bantik kian terancam. Tradisi turun temurun tidak lagi dipraktikkan. Beberapa tradisi menjelang punah bahkan sudah punah.

|
Dokumentasi Pribadi
Jashinta Pricilia Angela Tuela, Mahasiwa Sekolah Tinggi Filsafat Seminari Pineleng 

Bahasa Bantik memang tidak diajarkan di sekolah atau lembaga pendidikan lainnya. Akan tetapi di rumah, orang tua masih berbicara bahasa Bantik. Dengan sendirinya anak-anak masih sering mendengar bahasa Bantik, akan tetapi hanya sedikit anak yang berbicara bahasa Bantik. Mereka bisa mengerti isi pembicaraan dalam bahasa Bantik tetapi mereka sendiri tidak lagi fasih berbahasa Bantik.

Tradisi Bantik dalam Siklus Kehidupan

Dalam siklus kehidupan manusia, ada tiga peristiwa penting, yaitu kelahiran, perkawinan dan kematian.

Pertama, kelahiran. Pada zaman dulu, seorang ibu yang sedang hamil tua sampai sekitar satu minggu sesudah kelahiran anaknya dijaga dan dirawat oleh Biang Kampung. Biang Kampung itu tidak sakedar menjaga atau mengawasi tetapi juga merawat orang ibu yang sedang menanti kelahiran anaknya, membantu proses kelahiran, kemudian merawat ibu dan bayinya. Sesudah bayi berumur sekitar satu minggu, Biang Kampung menggendong bayi itu dan membawanya ke sanak-saudara dan tetangga sekitarnya. Ibu si bayi mengikutinya. Tujuannya ialah menunjukkan dan memberitahukan bahwa si ibu telah melahirkan dan anaknya dalam keadaan sehat.

Sekarang ini di kampung-kampung sudah ada puskesmas (pusat kesehatan masyarakat), ada bidan yang profesional, dan bahkan ada rumah sakit yang menangani proses kelahiran bayi. Biang Kampung lalu diberi pelatihan kesehatan agar dapat membantu menangani kelahiran bayi secara profesional menurut standar ilmu kesehatan dan kedokteran. Peran Biang Kampung disatukan dengan fungsi dokter dan perawat yang bekerja di puskesmas.

Kedua, perkawinan. Proses menuju perkawinan diawali dengan keinginan seorang laki-laki untuk memperistri seorang perempuan. Laki-laki  itu akan minta tolong pada teman dari perempuan yang ditaksirnya. Teman dijadikan perantara yang dalam bahasa Bantik disebut Salrra. Si laki-laki minta Salrra untuk memberi tahu perempuan yang ditaksirnya bahwa dia (laki-laki itu) menyukainya. Pihak perempuan akan memberi jawaban dan Salrra akan menyampaikan jawaban itu kepada pihak laki-laki.

Apabila kedua belah pihak bersedia untuk menjadi suami-istri, maka pihak laki-laki akan memberi tahu orang tua pihak perempuan lewat seorang perantara. Perantara itu disebut Makitaton. Dengan pengantaraan Makitaton, orang tua pihak laki-laki akan mendatangi rumah orang tua pihak perempuan. Ketika sampai di rumah pihak perempuan, Makitaton akan mengetuk pintu. Kalau orang tua pihak perempuan membuka pintu dan mempersilakan masuk, itu merupakan tanda-tanda bahwa lamaran akan diterima. Kalau lamaran diterima, kedua calon nikah itu memasuki masa pacaran yang resmi. Sebagai tanda ikatan resmi, pihak laki-laki akan menyerahkan uang ringgit yang dibungkus dengan sapu tangan kepada pihak perempuan.

Walaupun sudah terjalin ikatan resmi secara adat, segala kemungkinan masih bisa terjadi. Bila pihak perempuan mengambil keputusan untuk tidak melanjutkan hubungan itu ke jenjang perkawinan, maka pihaknya akan mendatangi rumah pihak laki-laki, mengetuk pintu, dan setelah pintu dibuka, dia tidak masuk ke dalam rumah dan langsung menyerahkan kembali uang ringgit yang dibungkus sapu tangan. Sesudah itu dia langsung pulang.

Bila keputusan datang dari pihak laki-laki, maka dia akan memberitahukan ke pihak perempuan dan harus menyerahkan semacam denda atau ganti rugi karena dianggap telah mempermalukan pihak perempuan.

Menjelang hari pernikahan akan diadakan pertemuan keluarga kedua belah pihak. Sebelum pertemuan diadakan, pihak laki-laki akan mengutus seorang wakil untuk mendatangi keluarga pihak perempuan. Utusan itu dalam bahasa Bantik disebut Ralraampang. Ralraampang akan menyampaikan atau memberi tahu bahwa keluarga pihak laki-laki meminta waktu untuk membicarakan acara perkawinan. Apabila menyetujuinya dan menentukan hari dan tanggal pertemuan, pihak perempuan akan memberitahukannya kepada Ralraampang dan kemudian Ralraampang akan menyampaikannya kepada keluarga laki-laki. Sesudah itu baru diadakan pertemuan kedua keluarga untuk membicarakan hal-ikhwal perkawinan.

Puncaknya adalah upacara perkawinan. Upacara perkawinan adat dipimpin pemangku adat. Dalam perkawinan adat itu, mempelai perempuan mengenakan kebaya dan mempelai laki-laki akan mengenakan kaiya.

Akan tetapi sekarang ini tradisi yang terkait dengan perkawinan tersebut sudah hampir tidak pernah dipraktikkan. Tradisi tersebut hampir punah dan hanya diingat oleh orang-orang tua yang masih mempunyai perhatian dan kepedulian terhadap budaya Bantik.

Ketiga, sakit dan kematian. Sakit dan penyakit bisa menimpa siapa saja tanpa kecuali. Dalam kehidupan orang Bantik, ada orang yang berfungsi sebagai tukang obat. Dalam bahasa Bantik, tukang obat itu disebut Lrlran. Apabila ada orang yang sakit, Lrlran itu akan mencari dan mengambil obat untuk menyembuhkan penyakitnya. Umumnya, obat itu berupa tumbuh-tumbuhan tertentu. Ada yang diambil daunnya, pohonnya, bunganya, akarnya atau bunganya. Pada saat di kampung ada orang yang meninggal, Lrlran tidak boleh mengambil obat untuk orang yang sedang sakit.

Tradisi yang terkait dengan orang sakit dan Lrlran tersebut juga sudah punah. Orang sakit tidak lagi ditangani oleh Lrlran. Orang sakit atau keluarganya akan membeli obat di apotek, berobat di puskesmas, di tempat dokter berpraktik atau di rumah sakit.

Sekalipun sakit-penyakit tertentu bisa diobati, tetapi pada akhirnya kematian tetap tidak terhindarkan. Bagi orang Bantik, kematian merupakan peristiwa yang sakral. Kesakralan peristiwa kematian itu ditunjukkan oleh suasana yang diciptakan. Keluarga dan orang sekampung tidak akan memutar musik, menari atau bernyanyi. Orang tidak akan melakukan aktivitas yang bersifat hiburan atau rekreatif.

Sumber: Tribun Manado
Halaman 2/4
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved