Opini
Budaya Bantik di Tengah Perubahan Zaman
Budaya Bantik kian terancam. Tradisi turun temurun tidak lagi dipraktikkan. Beberapa tradisi menjelang punah bahkan sudah punah.
Orang yang meninggal disemayamkan di rumah hanya satu malam saja. Sehari kemudian, jenazahnya harus dikuburkan.
Sebelum jenazah dikubur, ada acara adat yang disebut Mabem. Orang menyanyikan lagu duka sambil berdiri dan kepala tertunduk. Syair lagu itu bersifat keramat, dan tidak boleh diucapkan sembarangan di luar peristiwa kematian.
Selama 40 hari sejak hari kematian seseorang, keluarganya akan mengenakan pakaian berwarna hitam. Pakaian warna hitam itu merupakan tanda duka cita karena ditinggalkan oleh orang yang merupakan bagian dari keluarga dan hidup mereka.
Ketika di kampung ada orang meninggal, Lrlran akan pergi ke hutan. Bila di hutan dia berjumpa dengan seseorang, maka Lrlran itu akan membunuhnya. Sesudah itu dia akan kembali ke kampung dan memberitahukan orang-orang di kampung bahwa dia sudah mendapatkannya. Maksudnya, dia akan memberi tahu orang kampung bahwa dia sudah membalas kematian orang kampung itu dengan membunuh orang yang ditemuinya di hutan.
Tradisi yang terkait dengan kematian tersebut juga hampir punah atau tidak lagi dipraktikkan. Hanya Mabem yang kadang masih dipraktikkan. Sekurang-kurangnya, pada tanggal 5 September, yaitu hari wafatnya Wolter Mongisidi, orang Bantik yang menjadi pahlawan nasional. Namanya kadang secara keliru ditulis: Wolter Monginsidi.
Terkait dengan kematian, orang Bantik tidak memiliki pemahaman tersendiri tentang surga dan neraka. Bagi mereka, apabila orang sudah mati, jiwanya masih hidup di antara mereka. Hanya saja jiwa itu tidak terlihat. Akan tetapi sekarang ini semua orang Bantik sudah beragama. Hampir semua orang Bantik beragama Kristen, terutama Kristen Prostestan. Oleh karena itu, pemahaman mereka tentang hidup dan kematian lebih diwarnai oleh ajaran agama Kristen.
Kehidupan Sehari-hari Orang Bantik
Orang Bantik menjalani hidup sehari-hari seperti orang lain pada umumnya. Anak-anak sekolah dan bermain. Orang dewasa bekerja dan mencari nafkah. Ada yang bertani, ada yang menjadi tukang ojek. Ada bekerja sebagai guru di sekolah, bekerja sebagai perawat. Ada yang menjadi aparat pemerintah, entah di tingkat kelurahan atau di tingkat di atasnya (kecamatan, kabupaten, provinsi) dan lain-lain. Kehidupan sehari-hari mereka tidak ada bedanya dengan orang dari suku lain.
Mereka juga beragama seperti halnya warga masyarakat lainnya. Kebanyakan dari mereka beragama Kristen, yaitu Kristen Protestan atau Kristen Katolik. Agama dan ajaran Kristen mau tidak mau memengaruhi dan membentuk pandangan mereka tentang hidup dan maknanya, tentang Allah dan kehidupan sesudah kematian.
Akan tetapi mereka juga memiliki warisan kultural yang khas Bantik. Mereka memiliki 4 macam nyanyian dan tarian, yaitu:
Tumahak, yaitu tarian dan nyanyian yang dulu dilakukan di kebun dan berfungsi sebagai acara perpisahan.
Sumohok, yaitu tarian dan nyanyian yang bercorak rekreatif, dan digunakan sebagai acara hiburan.
Matungkobey, yaitu tarian dan nyanyian yang bisanya dilombakan.
Mabem, yaitu nyanyian duka yang hanya boleh dinyanyikan di depan jenazah. Secara rutin, Mabem dilakukan setiap tanggal 5 September di lapangan Bantik Malalayang untuk memperingati kematian Wolter Mongisidi.
Untuk menjalani kehidupan sehari hari, orang Bantik memiliki semboyan 3 H. Semboyan itu menjadi filosofi atau ajaran moral dasar. Semboyan 3 H itu adalah:
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/manado/foto/bank/originals/Jashinta-Pricilia-Angela-Tuela-Mahasiwa-Sekolah-Tinggi-Filsafat-Seminari-Pineleng.jpg)