Catatan Wartawan
Bukan Lagi Tsubasa, Tapi Musashi
Mereka pantang menyerah, seperti Musashi, Samurai kenamaan Jepang yang tak kenal lelah mengejar makna kehidupan di balik seni pedang.
Penulis: Arthur_Rompis | Editor: Ventrico Nonutu
Dan berdiri khidmat. Saat itulah ia diringkus.
Gaya si prajurit saat menyanyikan lagu Kimigayo persis dengan yang ditunjukkan timnas Jepang dalam pertandingan pertama mereka di Piala Dunia 2026 versus Belanda.
Kubo membusungkan dada.
Sedang Ito menutup kedua matanya.
Pelatih Jepang Hajime Moriyasu sampai meneteskan air mata.
Tanpa tiga pemain pilarnya yakni Endo, Takumi Minamino dan Kaoru Mitoma, Jepang masih dapat menahan Belanda, salah satu raksasa Eropa yang juga tim favorit di Piala Dunia 2026.
Penampilan Jepang mengingatkan saya pada sosok Samurai zaman dulu.
Mereka pantang menyerah, seperti Musashi, Samurai kenamaan Jepang yang tak kenal lelah mengejar makna kehidupan di balik seni pedang.
Sudah ketinggalan satu gol, tapi Jepang pantang menyerah.
Terus menyerang dan menyerang.
Lihat saja Ueda, Nakamura dan Kubo, sangat mirip pesawat Kamikaze yang menabrak kapal induk musuh.
Siap mengorbankan diri untuk negara.
Seorang Samurai menghabisi lawan dalam sekejab dengan teknik tunggal.
Begitulah Nakamura dengan tembakan dari luar kotak penalti menghabisi kiper Bart Verbruggen sekaligus bek terbaik dunia Virgil Van Dijk.
Sekali kontrol kemudian tendang bikin gol.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/manado/foto/bank/originals/CATATAN-WARTAWAN-Penulis-Arthur-Rompis-sadh.jpg)