Opini
Fenomena Mas Bahlil Ganteng dalam Perspektif Komunikasi Politik Modern
Yang menarik bukanlah bagaimana lagu itu lahir, melainkan bagaimana Bahlil Lahadalia meresponsnya.
Ringkasan Berita:1. Lagu viral yang awalnya diduga satire berhasil di-reframe menjadi citra positif karena Bahlil meresponsnya dengan santai alih-alih defensif, sehingga maknanya bergeser dari ejekan menjadi hiburan publik.2. Lagu MBG atau Mas Bahlil Ganteng justru memberikan eksposur gratis yang memperkuat brand awareness politik Bahlil Lahadalia.3. Fenomena ini membuktikan bahwa narasi tidak dimenangkan oleh penciptanya, melainkan oleh pihak yang cerdas mengelolanya.
Oleh: Baso Affandi
Direktur Eksekutif Barometer Suara Indonesia (BSI). Bermukim di Kota Manado, Sulawesi Utara
DALAM politik modern, tidak semua narasi lahir analisis formal konsultan politik, konferensi pers, atau bahkan pidato kenegaraan.
Sebagian justru lahir dari ketidak sengajaan atau 'keusilan digital' yang liar, spontan, dan sulit dikendalikan.
Salah satu fenomena menarik adalah munculnya lagu viral yang menyebut nama Bahlil Lahadalia dengan nada ringan, jenaka, dan mudah diingat.
Pada awal kemunculannya, banyak pihak menduga lagu tersebut bukanlah bentuk dukungan politik.
Sebaliknya, terdapat asumsi bahwa lagu itu muncul sebagai ekspresi satire, sindiran, atau bahkan olok-olok terhadap sikap Bahlil yang sangat aktif membela program Makan Bergizi Gratis (MBG) dan berbagai kebijakan pemerintah yang menjadi perdebatan publik.
Akan tetapi yang menarik bukanlah bagaimana lagu itu lahir, melainkan bagaimana Bahlil meresponsnya.
Bagaimana Bahlil dengan santai (saat melakukan ibadah haji) justru meminta nitizen mencari pembuatnya dan mengundangnya ke Jakarta. Di sinilah pelajaran penting komunikasi politik modern dapat ditemukan.
Teori Framing
Menurut teori framing yang dikembangkan oleh Erving Goffman dan kemudian diperluas oleh Robert Entman, sebuah pesan tidak memiliki makna tunggal.
Makna ditentukan oleh cara pesan tersebut dibingkai. Dalam banyak kasus, politisi sering gagal menghadapi satire karena mereka bereaksi secara defensif.
Ketika tokoh politik tersinggung, melawan, atau melarang suatu narasi, publik justru semakin memperkuat narasi tersebut.
Bahlil tampaknya mengambil jalan berbeda.
Alih-alih melawan, ia terlihat membiarkan lagu itu hidup. Bahkan dalam beberapa kesempatan, ekspresi yang muncul justru menunjukkan penerimaan terhadap fenomena tersebut.
Akibatnya, bingkai awal yang mungkin bernuansa ejekan perlahan bergeser menjadi hiburan.
Ketika publik berhenti melihat lagu itu sebagai sindiran dan mulai melihatnya sebagai candaan kolektif, maka terjadi perubahan makna sosial.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/manado/foto/bank/originals/Baso-Affandi-3.jpg)