Opini
Pancasila di Persimpangan Zaman
Masa depan Indonesia tidak akan ditentukan oleh seberapa sering kita mengucapkan Pancasila, melainkan oleh seberapa sungguh kita mewujudkannya.
Di balik berbagai persoalan politik dan ekonomi, terdapat dimensi psikologis yang sering terabaikan. Korupsi yang terus terjadi, ketimpangan sosial yang melebar, dan ketidakpastian ekonomi dapat menimbulkan kelelahan kolektif (collective fatigue). Masyarakat perlahan kehilangan kepercayaan terhadap institusi publik.
Psikolog sosial Erich Fromm dalam The Sane Society (1955) menjelaskan bahwa masyarakat yang kehilangan orientasi moral akan mengalami keterasingan dan krisis makna. Fenomena melemahnya kepercayaan publik bukan sekadar masalah politik, tetapi juga persoalan psikologis bangsa. Ketika rakyat merasa tidak didengar, apatisme sosial akan tumbuh.
Dalam situasi seperti itu, Pancasila berfungsi sebagai sumber harapan kolektif. Ia mengingatkan bahwa bangsa ini dibangun bukan di atas kesamaan identitas, melainkan kesepakatan untuk hidup bersama dalam perbedaan. Relevansi Pancasila bahkan melampaui batas-batas Indonesia.
Dunia saat ini sedang menghadapi berbagai konflik geopolitik. Rivalitas antara kekuatan besar, perang regional, perlombaan senjata, serta meningkatnya nasionalisme eksklusif menunjukkan rapuhnya perdamaian global. Di tengah situasi tersebut, Pancasila menawarkan paradigma alternatif.
Nilai Ketuhanan mengajarkan penghormatan terhadap martabat manusia. Kemanusiaan mengajarkan solidaritas lintas bangsa. Persatuan mengajarkan hidup bersama dalam keberagaman. Kerakyatan menegaskan pentingnya dialog dan musyawarah. Keadilan sosial mengingatkan bahwa perdamaian sejati tidak mungkin tercapai tanpa keadilan.
Pemikiran ini sejalan dengan gagasan positive peace yang dikembangkan oleh Johan Galtung dalam Peace by Peaceful Means (1996). Menurutnya, perdamaian bukan sekadar ketiadaan perang, melainkan hadirnya keadilan, kesejahteraan, dan penghormatan terhadap martabat manusia. Dengan demikian, Pancasila bukan hanya warisan nasional, tetapi juga kontribusi Indonesia bagi peradaban dunia.
Menyalakan Kembali Api Pancasila
Hari Lahir Pancasila 2026 seharusnya menjadi momentum refleksi nasional yang jujur. Bangsa ini tidak kekurangan slogan. Yang kurang adalah keberanian moral untuk menjadikan Pancasila sebagai pedoman nyata dalam penyelenggaraan negara.
Korupsi harus dilawan bukan hanya karena melanggar hukum, tetapi karena bertentangan dengan martabat manusia. Kolusi dan nepotisme harus ditolak karena merusak keadilan. Oligarki harus dikritisi karena menggerus kedaulatan rakyat. Pembangunan harus dikoreksi jika mengorbankan lingkungan hidup dan masyarakat adat. Demokrasi harus dijaga agar tidak tergelincir ke dalam otoritarianisme. Supremasi sipil harus dipertahankan agar negara tetap berada di jalur konstitusi.
Pancasila tidak membutuhkan pemujaan. Ia membutuhkan penghayatan. Pancasila tidak membutuhkan seremoni yang megah. Ia membutuhkan keberanian untuk diterjemahkan menjadi kebijakan yang berpihak kepada rakyat. Dan pada akhirnya, masa depan Indonesia tidak akan ditentukan oleh seberapa sering kita mengucapkan Pancasila, melainkan oleh seberapa sungguh kita mewujudkannya.
Di tengah badai krisis nasional dan ketidakpastian global, pesan Hari Lahir Pancasila 2026 tetap relevan dan mendesak: Indonesia hanya dapat menjadi pemersatu bangsa dan fondasi perdamaian dunia apabila Pancasila hidup dalam hati, pikiran, kebijakan, dan tindakan seluruh anak bangsa. (*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/manado/foto/bank/originals/Herkulaus-Mety.jpg)