Opini
Refleksi Iduladha 1447 H: Kurban yang Menyembuhkan Bumi
Dalam gema takbir yang mengguncang langit Nusantara, manusia modern kembali dihadapkan pada pertanyaan paling purba:
Oleh: Dr. Drs. H. Ulyas Taha, M.Pd
Kepala Kanwil Kemenag Sulut
DI TENGAH hiruk-pikuk politik identitas, krisis ekologis, kemiskinan struktural, dan meningkatnya kelelahan sosial bangsa, Iduladha 1447 H datang bukan sekadar sebagai perayaan ritual tahunan. Ia hadir sebagai teguran moral. Dalam gema takbir yang mengguncang langit Nusantara, manusia modern kembali dihadapkan pada pertanyaan paling purba: masihkah kita sanggup berkorban demi sesuatu yang lebih besar daripada diri sendiri?
Pada titik inilah tema “Meneguhkan Spirit Kurban: Merawat Alam dan Kemanusiaan” menemukan relevansinya. Kurban bukan hanya tentang menyembelih hewan, melainkan menyembelih egoisme, kerakusan, kekuasaan yang eksploitatif, serta cara hidup yang merusak relasi manusia dengan Tuhan, sesama, dan alam. Iduladha mengajarkan bahwa penghambaan sejati tidak berhenti pada altar ritual, tetapi harus menjelma menjadi etika sosial dan tanggung jawab ekologis.
Indonesia hari ini menghadapi paradoks besar. Di satu sisi, bangsa ini dikenal religius; rumah ibadah penuh, simbol agama marak, dan perayaan keagamaan berlangsung meriah. Namun di sisi lain, korupsi tetap mengakar, intoleransi masih muncul, kerusakan lingkungan semakin brutal, dan kesenjangan sosial makin tajam. Agama sering berhenti pada simbol, belum sepenuhnya menjadi transformasi moral. Dalam konteks itu, Iduladha harus dibaca ulang sebagai momentum rekonstruksi etika kebangsaan.
Di Sulawesi Utara, pesan ini menjadi sangat penting. Daerah yang dikenal sebagai laboratorium kerukunan Indonesia ini sedang menghadapi tantangan baru: degradasi lingkungan pesisir, ancaman sampah plastik, urbanisasi, tekanan ekonomi masyarakat bawah, hingga polarisasi digital yang perlahan menggerus budaya mapalus dan persaudaraan lintas iman. Spirit kurban menjadi panggilan untuk kembali merawat rumah bersama dan memperkuat solidaritas sosial.
Ibrahim dan Krisis Manusia Modern
Kisah Nabi Ibrahim bukan sekadar narasi kepatuhan religius. Ia adalah drama eksistensial tentang keberanian manusia melawan dirinya sendiri. Søren Kierkegaard dalam Fear and Trembling (1843) menyebut Ibrahim sebagai “ksatria iman” yang berani melampaui logika demi ketaatan total kepada Tuhan. Namun dalam konteks modern, persoalan manusia bukan lagi sekadar ketaatan, melainkan hilangnya kemampuan untuk berkorban.
Manusia kontemporer dibentuk oleh budaya konsumtif dan individualistik. Erich Fromm dalam To Have or To Be? (1976) menjelaskan bahwa masyarakat modern lebih sibuk “memiliki” daripada “menjadi”. Akibatnya, manusia terjebak dalam kerakusan material dan kehilangan dimensi spiritual. Iduladha justru menghadirkan antitesis terhadap mentalitas tersebut. Ibrahim rela melepaskan apa yang paling dicintainya demi nilai yang lebih luhur.
Dalam perspektif Islam, kurban adalah jalan penyucian batin. Al-Qur’an menegaskan, “Daging dan darah hewan kurban itu tidak akan sampai kepada Allah, tetapi ketakwaanmulah yang sampai kepada-Nya” (QS. Al-Hajj: 37). Ayat ini menegaskan bahwa inti kurban bukan materialitas, melainkan kualitas moral dan spiritual manusia.
Pemikir Muslim kontemporer seperti Fazlur Rahman dalam Islam and Modernity (1982) menegaskan bahwa agama harus menjadi kekuatan etik yang menjawab problem kemanusiaan. Karena itu, Iduladha tidak boleh berhenti pada seremoni penyembelihan, tetapi harus melahirkan keberpihakan kepada kaum miskin, korban ketidakadilan, dan mereka yang tersingkir oleh sistem ekonomi.
Dalam konteks Indonesia, spirit Ibrahim menjadi kritik terhadap budaya korupsi dan oligarki. Sulit berbicara tentang ketakwaan apabila elite politik dan ekonomi terus mempertontonkan kerakusan. Kurban menuntut keberanian moral untuk menahan diri, membatasi keserakahan, dan membangun tata sosial yang lebih adil.
Kurban dan Etika Kemanusiaan
Iduladha sesungguhnya mengandung dimensi sosial yang sangat kuat. Distribusi daging kurban merupakan simbol redistribusi keadilan. Dalam masyarakat yang semakin timpang, praktik berbagi ini menjadi penting secara etik dan politis.
Data ketimpangan ekonomi di Indonesia menunjukkan bahwa sebagian besar kekayaan nasional masih terpusat pada kelompok elite. Dalam situasi demikian, kurban dapat dibaca sebagai kritik terhadap kapitalisme eksploitatif yang menumpuk keuntungan pada segelintir orang. Amartya Sen dalam Development as Freedom (1999) menegaskan bahwa pembangunan sejati harus memperluas kebebasan dan martabat manusia, bukan hanya pertumbuhan ekonomi.
Spirit kurban menuntut solidaritas konkret. Di banyak daerah, termasuk Sulawesi Utara, masih ada masyarakat pesisir, petani, nelayan, dan pekerja informal yang hidup dalam ketidakpastian ekonomi. Ketika harga kebutuhan pokok naik dan lapangan kerja semakin terbatas, Iduladha seharusnya menjadi momentum memperkuat ekonomi berbasis kepedulian sosial.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/manado/foto/bank/originals/Dr-Drs-H-Ulyas-Taha-MPd-Kepala-Kanwil-Kemenag-Sulut.jpg)