Opini
Haji: Pertemuan Internasional dan Pelajaran Kosmopolitanisme
Boleh berbeda bahasa, berbeda bangsa, dan berbeda pengalaman hidup. Namun kita tetap berbagi satu rumah yang sama; kemanusiaan
Ringkasan Berita:
- Tulisan Dekan FTIK IAIN Manado, Arhanuddin Salim
- Makkah Sebagai Titik Temu Dunia
- Haji dan Transformasi Diri
Oleh:
Arhanuddin Salim
Dekan FTIK IAIN Manado
SETIAP tahun, dunia sesungguhnya memiliki sebuah pertemuan internasional yang unik.
Ia tidak diselenggarakan oleh lembaga politik dunia, tidak diprakarsai negara-negara besar, dan tidak digerakkan oleh kepentingan ekonomi. Pertemuan itu bernama ibadah haji.
Jutaan manusia dari berbagai bangsa berkumpul di Makkah dengan satu tujuan yang sama.
Mereka datang dengan bahasa, budaya, warna kulit, dan latar sosial yang berbeda.
Dalam balutan ihram, berbagai simbol status yang biasanya membedakan manusia menjadi kehilangan maknanya. Semua berdiri setara di hadapan Tuhan.
Makkah Sebagai Titik Temu Dunia
Haji merupakan salah satu pertemuan internasional terbesar dan paling berkelanjutan dalam sejarah umat manusia.
Jauh sebelum istilah globalisasi dikenal, umat Islam telah melakukan perjalanan lintas benua menuju Makkah.
Dari Asia, Afrika, Eropa, Amerika, hingga Australia, mereka dipersatukan dalam pengalaman spiritual yang sama.
Karena itu, haji tidak hanya memiliki dimensi ritual, tetapi juga dimensi peradaban. Haji memperlihatkan bahwa keberagaman tidak harus melahirkan pertentangan.
Perbedaan bahasa, etnis, dan budaya bukan ancaman, melainkan kenyataan yang dapat memperkaya kehidupan bersama.
Di tengah dunia yang sering diwarnai konflik identitas, polarisasi politik, dan sentimen kelompok, pesan haji menjadi semakin relevan.
Makkah menunjukkan bahwa manusia dapat berbeda tanpa harus bermusuhan.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/manado/foto/bank/originals/Foto-kolase-dengan-gambar-Tulisan-opini-Dekan-FTIK-IAIN-Manado.jpg)