Selasa, 28 April 2026
Sulawesi Utara
Menuju Sulut Maju, Sejahtera dan Berkelanjutan

Opini

Sejarah Golkar Tak Sesederhana Reeve

Sejarah, seperti kopi pagi, harus dinikmati utuh. Jangan hanya menyesap busanya dan mengatakan sudah mencicipi semuanya

Kolase
OPINI - Tulisan opini Baso Affandi (Direktur Barometer Swara Indonesia - Warga Kota Manado). Sejarah Golkar Tak Sesederhana Reeve. 

Ringkasan Berita:
  • Memutar ulang perdebatan tentang Golkar dan klaim David Reeve.
  • Reeve tidak sepenuhnya keliru. Sukarno memang pernah bicara tentang “golongan-golongan fungsional” sebagai jalan keluar dari kegaduhan multipartai
  • Golkar, pada akhirnya, adalah cerita besar tentang gagasan yang melayang di kepala Soekarno

Oleh:
Baso Affandi
(Direktur Barometer Swara Indonesia - Warga Kota Manado)

PAGI di Break Coffee Manado selalu punya cara sendiri untuk memaksa kita berpikir pelan-pelan. Bau kopi robusta bercampur arabica yang baru digiling, suara sendok kecil bertemu gelas, dan angin dari semua sisinya yang terbuka membawa riuh jalan Tikala, semua itu serupa undangan bagi pikiran untuk mengendap. 

Di tempat seperti ini, membuka berita yang dikirim sahabat membuat sejarah terasa lebih jernih dibanding menelusuri arsip di ruang yang terlalu senyap.

Baca juga: Analisis Baso Affandi: Rebranding Dorong PSI Sulut Naik, Namun Tantangan Organisasi Masih Berat

Pagi yang seperti ini pula, saya kembali memutar ulang perdebatan tentang Golkar dan klaim David Reeve. Katanya, Golkar bukan produk militer, bukan pula hasil rekayasa kekuasaan Orde Baru, melainkan akar panjang dari gagasan Soekarno sejak pertengahan 1950 an. 

Klaim yang indah, rapi, dan masuk akal di atas kertas. Tapi justru karena terlalu rapi itulah kita perlu mencurigainya.

Sebab sejarah apalagi sejarah politik Indonesia tak pernah lahir dari garis lurus tunggal. Ia lebih mirip jalur retak di dinding tua, bercabang, berlapis, dan kadang hanya bisa dibaca jika cahaya pagi jatuh dari sudut tertentu.

Antara Gagasan Soekarno dan Realitas Politik

Reeve tidak sepenuhnya keliru. Sukarno memang pernah bicara tentang “golongan-golongan fungsional” sebagai jalan keluar dari kegaduhan multipartai. Tapi menyamakan gagasan itu dengan kelahiran Golkar sama saja menyamakan bayangan pohon dengan pohonnya sendiri.

Gagasan fungsionalisme adalah wacana sebuah idealisme Soekarno tentang demokrasi terpimpin, sama seperti Nasakom atau Front Nasional yang kala itu lebih banyak berfungsi sebagai retorika penyatu daripada desain kelembagaan.

Tidak ada satu pun dokumen yang menunjukkan Soekarno merancang, memerintah, apalagi mengawasi pembentukan sesuatu bernama Sekretariat Bersama Golongan Karya. Sukarno sibuk membangun imajinasi ideologis negara, a bukan arsitek mesin elektoral yang disiplin, sistematis, dan berwatak teknokratik seperti Golkar di kemudian hari.

Soekarno memberi inspirasi. Tapi inspirasi bukan institusi

1964 : Tahun yang Tak Bisa Diperkecil.  Reeve berargumen publik keliru melihat 1964 sebagai titik lahir Golkar. Tapi justru di sinilah letak persoalannya. Tahun 1964 bukan sekadar tanggal pembentukan Sekber Golkar, namun ia adalah simpul dari kecemasan, ambisi, dan manuver politik militer yang tengah mencari cara bertahan di bawah bayang-bayang PKI yang makin dominan.

Pada masa itu, SOKSI, KOSGORO, dan MKGR bukan sekadar organisasi kemasyarakatan. Mereka adalah jejaring sosial politik yang dirawat, didanai, dan diarahkan oleh Angkatan Darat.

Tidak menyebut peran militer dalam fase ini sama saja menulis sejarah tanpa tinta, sebab tanpa pengerahan sumber daya Angkatan Darat dari intelijen, logistik, sampai kedekatan struktural, bisa dikatakan sekber Golkar hanyalah salah satu eksperimen organisasi di era penuh percobaan itu, yang menjadikannya mesin politik, yang membuatnya kelak mampu menguasai Indonesia selama 32 tahun, adalah dukungan militer yang tidak pernah setengah hati.

Mengabaikan poin ini adalah mengabaikan denyut nadi sejarah itu sendiri.

Halaman 1/2
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved