Selasa, 28 April 2026
Sulawesi Utara
Menuju Sulut Maju, Sejahtera dan Berkelanjutan

Opini

Sejarah Golkar Tak Sesederhana Reeve

Sejarah, seperti kopi pagi, harus dinikmati utuh. Jangan hanya menyesap busanya dan mengatakan sudah mencicipi semuanya

Kolase
OPINI - Tulisan opini Baso Affandi (Direktur Barometer Swara Indonesia - Warga Kota Manado). Sejarah Golkar Tak Sesederhana Reeve. 

Inspirasi Bukan Konstruksi

Reeve kemudian menyimpulkan Golkar sebagai “evolusi gagasan nasional”. Pernyataan yang puitis, tetapi terlalu mengawang untuk menjelaskan kelahiran organisasi yang sangat teknis, pragmatis, dan berorientasi kekuasaan.

Golkar bukan evolusi alami, namun ia adalah konstruksi politik. Dan konstruksi itu dikerjakan oleh militer yang sudah pasti bukan di meja akademik, tetapi di medan pertempuran politik setelah 1965.

Soekarno memberi kosakata. Militer memberi tubuh

Golkar berdiri sebagai kendaraan politik Orde Baru bukan karena Soekarno pernah menggagas fungsionalisme, tetapi karena Angkatan Darat membutuhkan saluran sipil yang tidak mengancam otoritas mereka tetapi cukup kuat untuk menundukkan kekuatan kiri, merapikan sistem, dan pada akhirnya menopang kekuasaan Soeharto.

Bahaya Menyederhanakan Sejarah

Menggiring narasi bahwa Golkar berakar pada gagasan Soekarno mengandung implikasi serius. Ia berpotensi menghapus peran militer dalam membangun infrastruktur politik Orde Baru, Memutihkan proses kontrol politik yang berlangsung selama tiga dekade dan menempatkan Soekarno seolah memiliki andil struktural dalam pembentukan Golkar, padahal ia hanya menyentuhnya sebagai ide.

Sejarah tidak boleh dipoles agar nyaman dibaca. Kebenaran tidak selalu indah, tetapi selalu perlu.

Golkar itu Anak dari Banyak Ruang

Jika kita ingin jujur pada sejarah, kita harus mengakui satu hal dimana Golkar bukan lahir dari satu rahim. Ada gagasan Soekarno, ada strategi militer, ada dinamika politik 1960an, dan ada kebutuhan Orde Baru akan stabilitas yang bisa diatur.

Golkar adalah institusi yang terbentuk bukan dari pemikiran tunggal, tetapi dari tarik menarik kepentingan, kompromi diam-diam, dan manuver kekuasaan. Menyederhanakannya hanya sebagai “produk Soekarno” adalah menciptakan mitos baru untuk menggantikan mitos lama.

Dan sejarah terlalu penting untuk dijadikan mitos.

Kopi saya mulai mendingin. Orang di meja sebelah sudah berbicara soal pekerjaan, bukan sejarah. Tapi pagi ini saya merasa satu hal menjadi jelas, menantang Reeve bukan berarti menolak kontribusinya, melainkan menjaga agar sejarah Golkar tidak terpotong dan tidak dibaca dengan kacamata tunggal.

Golkar, pada akhirnya, adalah cerita besar tentang gagasan yang melayang di kepala Soekarno, tentang tangan-tangan militer yang bekerja di balik tirai, tentang kekuasaan yang mencari wadah, dan tentang sebuah bangsa yang sedang bernegosiasi dengan dirinya sendiri.

Sejarah, seperti kopi pagi, harus dinikmati utuh. Jangan hanya menyesap busanya dan mengatakan sudah mencicipi semuanya. (*)

Ikuti Saluran WhatsApp Tribun Manado, Thread Tribun Manado, Google News Tribun Manado untuk pembaharuan lebih lanjut tentang berita populer lainnya.

Halaman 2/2
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved