Opini
Refleksi Hari Komunikasi Sosial Sedunia 2026: Menjaga Wajah dan Suara Manusia
Tantangan terbesar era digital yakni apakah manusia masih mampu menjaga kemanusiaannya sendiri di tengah dominasi algoritma, AI dan komunikasi instan.
Oleh:
Herkulaus Mety, S.Fils, M.Pd
Alumnus STF Seminari Pineleng dan IAIN Manado
ADA ironi besar dalam peradaban digital kita hari ini: manusia semakin mudah terhubung, tetapi semakin sulit sungguh-sungguh mendengarkan. Kita hidup di zaman ketika suara dapat dikirim dalam hitungan detik, tetapi kebenaran justru sering terlambat tiba. Informasi bergerak cepat melampaui verifikasi. Viralitas mengalahkan kebijaksanaan. Emosi mengalahkan akal sehat. Dan dalam banyak kasus, manusia kehilangan wajahnya sendiri di tengah keramaian algoritma.
Hari Minggu Komunikasi Sosial Sedunia Ke-60 yang dirayakan Gereja Katolik pada 17 Mei 2026 menjadi momentum penting untuk merefleksikan kembali arah komunikasi manusia modern. Dalam pesannya yang bertajuk “Melestarikan Suara dan Wajah Manusia”, Paus Leo XIV mengingatkan bahwa tantangan terbesar era digital bukan terutama soal teknologi, melainkan soal antropologi: apakah manusia masih mampu menjaga kemanusiaannya sendiri di tengah dominasi algoritma, kecerdasan buatan atau AI (artificial intelligent), dan budaya komunikasi instan.
Peringatan Paus Leo XIV sesungguhnya sangat relevan dengan situasi sosial Indonesia hari ini. Kita menyaksikan penyebaran hoaks politik dan agama, fitnah digital, budaya “no viral no justice”, penipuan online, pengumbaran aib pribadi dan keluarga di media sosial, komunikasi birokrasi yang feodal dan manipulatif dengan pola “asal bapak senang”, bahkan relasi komunikasi internal Gereja yang kadang tertutup dan tidak dialogis terhadap keluhan umat.
Di tengah semua itu, komunikasi kehilangan fungsi sucinya sebagai sarana membangun kebenaran, keadilan, dan persaudaraan. Komunikasi berubah menjadi alat pencitraan, manipulasi, intimidasi, bahkan penghancuran martabat manusia.
Karena itu, refleksi Hari Komunikasi Sosial Sedunia tidak cukup berhenti pada ajakan moral “bijak bermedia sosial”. Yang dibutuhkan adalah pertobatan komunikasi: perubahan cara berpikir, cara berbicara, dan cara memperlakukan sesama manusia di ruang publik maupun ruang digital.
Komunikasi sebagai Panggilan Teologis dan Kemanusiaan
Dalam perspektif teologis dan biblis, komunikasi bukan sekadar aktivitas teknis menyampaikan pesan. Komunikasi adalah bagian dari hakikat Allah sendiri. Injil Yohanes membuka pewahyuan iman Kristen dengan kalimat yang sangat mendalam: “Pada mulanya adalah Firman” (Yohanes 1:1). Allah berkomunikasi dengan manusia melalui Firman. Yesus sendiri adalah Sabda yang menjadi daging. Dengan demikian, komunikasi dalam iman Kristen bukan pertama-tama soal informasi, tetapi relasi.
Paus Fransiskus dalam Fratelli Tutti (2020) menegaskan bahwa komunikasi yang sehat selalu melahirkan budaya perjumpaan (culture of encounter), bukan budaya permusuhan. Manusia dipanggil untuk saling mendengarkan, bukan saling memusnahkan melalui kata-kata. Kata-kata memiliki daya etis dan spiritual. Ia dapat menyembuhkan, tetapi juga menghancurkan.
Surat Yakobus mengingatkan bahwa lidah adalah api kecil yang mampu membakar seluruh hutan (Yakobus 3:5-6). Dalam konteks digital modern, “lidah” itu kini hadir dalam bentuk status media sosial, komentar anonim, unggahan video, narasi provokatif, dan potongan informasi yang disebarkan tanpa tanggung jawab moral.
Karena itu, dosa komunikasi hari ini tidak lagi hanya terjadi di mimbar atau percakapan personal, tetapi juga di layar gawai. Fitnah digital, ujaran kebencian, pembunuhan karakter, manipulasi informasi, dan penyebaran hoaks bukan sekadar pelanggaran etika sosial, melainkan juga pelanggaran moral dan spiritual.
Filsuf Emmanuel Levinas (1969) dalam Totality and Infinity menjelaskan bahwa wajah manusia adalah pusat etika. Ketika kita melihat wajah orang lain, kita dipanggil untuk bertanggung jawab atas kemanusiaannya. Namun media sosial sering membuat manusia kehilangan “wajah”. Orang menyerang orang lain tanpa melihat luka yang ditimbulkan. Teknologi menciptakan jarak psikologis yang mempermudah kekerasan verbal.
Paus Leo XIV secara eksplisit memperingatkan bahaya ini ketika menyatakan bahwa manusia dapat kehilangan “wajah dan suara”-nya karena dominasi teknologi digital dan kecerdasan buatan. Dalam dunia digital, manusia perlahan direduksi menjadi data, statistik, algoritma, dan engagement. Padahal manusia bukan mesin.
Martin Buber (1958) dalam I and Thou menegaskan bahwa relasi sejati lahir ketika manusia memperlakukan sesamanya sebagai “Engkau”, bukan “itu”. Krisis komunikasi modern justru terjadi ketika manusia saling memperlakukan sebagai objek. Orang lain tidak lagi dipandang sebagai pribadi bermartabat, tetapi sebagai lawan politik, sasaran hujatan, alat konten, atau objek viralitas. Di sinilah relevansi spiritual Hari Komunikasi Sedunia: mengembalikan komunikasi kepada martabat manusia.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/manado/foto/bank/originals/Herkulaus-Mety.jpg)