Opini
Trauma yang Tertinggal di Sumatera
Setelah evakuasi selesai dan laporan kerugian dirilis, ada satu persoalan yang jarang dilihat, penderitaan psikosomatik yang mengendap pada penyintas
Aktivitas kelompok—mulai dari gotong royong hingga kegiatan anak-anak—berfungsi membangun kembali rasa kebersamaan yang sangat penting dalam proses pemulihan. Namun perlu diingat bahwa tidak semua penyintas akan pulih hanya dengan pendekatan dasar. Mereka yang menunjukkan gejala berat seperti tidak mampu tidur selama berminggu-minggu, kehilangan minat pada aktivitas sehari-hari, serangan panik berulang, atau pikiran untuk mengakhiri hidup, harus segera dirujuk untuk mendapatkan pertolongan profesional. Deteksi dini oleh tenaga kesehatan di lapangan menjadi kunci mencegah masalah jangka panjang. Pemulihan pascabencana tidak hanya soal membangun kembali rumah dan fasilitas publik, tetapi juga membangun kembali rasa aman, kendali diri, dan harapan.
Penguatan mental penyintas adalah bagian dari rekonstruksi sosial yang sama pentingnya dengan perbaikan infrastruktur fisik. Pemerintah daerah, tenaga kesehatan, akademisi, serta organisasi kemanusiaan perlu menyusun u agar dukungan psikologis menjadi standar dalam setiap respons bencana. Luka fisik mungkin sembuh dalam hitungan minggu atau bulan.
Namun luka di dalam jiwa sering bertahan lebih lama, bekerja diam-diam, dan memengaruhi kualitas hidup penyintas jauh setelah bencana berlalu. Dengan memberikan perhatian yang layak pada aspek kesehatan mental, kita bukan hanya menolong mereka untuk bertahan, tetapi juga membantu mereka untuk benar-benar
kembali hidup. Karena pada akhirnya, keberhasilan pemulihan pascabencana tidak diukur dari berapa banyak bangunan yang berdiri kembali, melainkan seberapa kuat manusia yang kembali bangkit di dalamnya. (*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/manado/foto/bank/originals/Muhamad-Awaludin-17.jpg)