Opini
Trauma yang Tertinggal di Sumatera
Setelah evakuasi selesai dan laporan kerugian dirilis, ada satu persoalan yang jarang dilihat, penderitaan psikosomatik yang mengendap pada penyintas
Penulis: Dr Muhamad Awaludin, SpPD, Subsp.P.P.M.(K), M.Pd, FINASIM
- Dosen Fakultas Kedokteran Unsrat
- Ketua MPKU PWM Sulawesi Utara
KETIKA musibah merobohkan rumah, banjir bandang menelan kampung, atau tanah longsor memutus jalan, perhatian publik segera tertuju pada kerusakan fisik, jumlah korban, besaran kerugian, dan proses evakuasi. Namun setelah sirene relawan mereda dan bantuan logistik mulai berkurang, ada satu hal yang sering terlupakan luka batin para penyintas yang menetap jauh lebih lama daripada puing-puing yang berserakan, bencana yang melanda Sumatera, kerusakan fisik segera menjadi pusat perhatian. Namun setelah evakuasi selesai dan laporan kerugian dirilis, ada satu persoalan yang jarang dilihat, penderitaan psikosomatik yang mengendap pada penyintas.
Trauma tidak selalu hadir dalam bentuk tangis atau mimpi buruk, sering kali ia muncul sebagai sakit perut berulang, nyeri dada, palpitasi, sulit bernapas, pusing, atau kelelahan ekstrem, keluhan yang kerap datang ke fasilitas kesehatan tanpa temuan medis yang jelas. Sebagai klinisi, saya melihat bagaimana stres pascabencana dapat memicu reaksi tubuh yang nyata.
Sistem saraf otonom menjadi lebih sensitif, hormon stres meningkat, dan respons inflamasi tubuh berubah. Inilah alasan mengapa sebagian penyintas datang berkali-kali mencari pertolongan medis, padahal akar masalahnya adalah luka batin yang belum pulih.
Dukungan Psikososial Harus Menjadi Prioritas
Bencana alam bukan hanya memporak-porandakan bangunan, tetapi juga memutus rasa aman dan kendali hidup seseorang. Banyak penyintas kehilangan keluarga, harta benda, bahkan arah masa depan. Dalam pengalaman klinis, gejala stres akut biasanya muncul dalam minggu pertama: sulit tidur, mudah terkejut, menolak mengingat kejadian, atau sebaliknya terus-menerus terbayang.
Sebagian akan membaik dengan dukungan lingkungan. Namun sebagian lainnya dapat berkembang menjadi gangguan stres pascatrauma (PTSD), depresi, atau gangguan kecemasan. Dalam beberapa minggu pascabencana, gejala stres akut sering muncul: jantung berdebar, keringat dingin, sulit tidur, cemas tanpa sebab, atau menghindari tempat tertentu.
Namun pada sebagian orang, gejala tersebut tidak hilang justru berubah menjadi keluhan fisik yang menetap. Inilah yang dalam dunia psikosomatik disebut gangguan gejala somatik. Tidak jarang penyintas datang dengan keluhan nyeri dada yang menyerupai serangan jantung, sesak napas seperti asma, nyeri lambung seperti tukak, atau kelelahan berkepanjangan yang mengganggu aktivitas.
Pemeriksaan medis sering kali normal. Namun gejalanya tetap nyata, mengganggu fungsi harian, dan menimbulkan kecemasan yang semakin memperberat keluhan. Lingkaran inilah yang sering tidak dikenali oleh sistem penanggulangan bencana. Yang perlu dipahami adalah: pemulihan mental membutuhkan waktu, sistem, dan pendampingan. Kesehatan mental adalah bagian dari kesehatan secara utuh sama pentingnya dengan luka fisik yang terlihat.
Intervensi kesehatan mental tidak selalu berupa pemberian obat. Justru yang paling dibutuhkan pada fase awal adalah: Pendampingan psikososial yaitu Membangun kembali rasa aman, menyediakan ruang bercerita, dan memastikan penyintas tidak merasa sendirian, Pelatihan bagi relawan dan perangkat desa dengan tujuan Agar
mereka mampu mengenali tanda stres berat, memberikan dukungan awal, dan merujuk bila diperlukan, melakukan Layanan skrining psikologis sederhana yang dapat dilakukan oleh tenaga kesehatan setempat untuk mendeteksi PTSD, depresi, atau bahkan risiko bunuh diri, penting memberikan Perhatian khusus untuk kelompok rentan yaitu anak, lansia, penyandang disabilitas, dan mereka yang kehilangan keluarga.
Dukungan ini tidak hanya menyembuhkan individu, tetapi juga memperkuat community resilience, ketahanan masyarakat untuk bangkit dari bencana berikutnya.
Pemulihan Mental Pasca-Bencana
Pemulihan mental paska bencana penting untuk diterapkan, Pengalaman klinis menunjukkan bahwa dampak psikologis pascabencana dapat berlangsung jauh lebih lama dari kerusakan fisik. Rasa takut, kesedihan mendalam, mimpi buruk, keterkejutan yang berulang, hingga gangguan tidur, adalah reaksi yang umum pada fase awal.
Banyak juga penyintas yang mengalami keluhan fisik—sesak, nyeri dada, sakit kepala, gangguan lambung —tanpa temuan medis yang jelas. Dalam dunia psikosomatik, ini dikenal sebagai respons tubuh terhadap tekanan mental yang berat. Sayangnya, dalam budaya kita, keluhan emosional sering dianggap sesuatu yang harus “ditahan” atau “disembunyikan”. Akibatnya, banyak penyintas yang tampak tegar dari luar, tetapi rapuh di dalam. Jika tidak tertangani, kondisi ini bisa berkembang menjadi gangguan stres pascatrauma, depresi, kecemasan kronis, atau gangguan psikosomatik berkepanjangan.
Di sinilah pentingnya memasukkan dukungan kesehatan mental sebagai bagian integral dari penanganan bencana, bukan sebagai tambahan belakangan. Organisasi kesehatan dunia merekomendasikan pendekatan Psychological First Aid atau “pertolongan pertama psikologis” pada fase awal. Meski terdengar teknis, praktiknya sebenarnya sederhana dan dapat dilakukan oleh tenaga kesehatan, relawan, maupun masyarakat umum.
Pertama, penyintas membutuhkan rasa aman. Kehadiran relawan yang stabil, penjelasan yang jelas mengenai kondisi terkini, serta tempat pengungsian yang tertata membantu menurunkan kecemasan. Kedua, penting untuk mendengarkan tanpa menghakimi. Memberi ruang bagi penyintas untuk bercerita adalah langkah awal meredakan ketegangan emosional. Ketiga, reaksi seperti takut, sedih, atau sulit tidur perlu dinormalisasi sebagai respons wajar, bukan seb agai tanda kelemahan.
Edukasi sederhana saja sudah cukup membantu mereka memahami bahwa tubuh sedang bereaksi terhadap situasi luar biasa. Selain itu, intervensi mudah seperti latihan pernapasan perlahan, relaksasi singkat, atau rutinitas harian di pengungsian dapat menstabilkan kondisi psikologis.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/manado/foto/bank/originals/Muhamad-Awaludin-17.jpg)