Sulawesi Utara
Menuju Sulut Maju, Sejahtera dan Berkelanjutan

Catatan Wartawan

Darah Menjadi Kopi

"Awalnya arwah dari korban seakan memburu saya, ia seperti membayangi saya, setelah itu saya diteror rasa sesal," kata dia.

Penulis: Arthur_Rompis | Editor: Ventrico Nonutu
Tribunnews.com
CATATAN WARTAWAN - Foto ilustrasi. Darah Menjadi Kopi. 

Nasib terbaik adalah tidak pernah dilahirkan.

Yang kedua dilahirkan tapi mati muda. Yang tersial adalah menjadi tua.

Itu kata Soe Hok Gie. Tapi lain kata L.

Menurutnya, nasib terbaik adalah lahir kembali.

L bukan aktivis. Ia hanya pria biasa.

Pernah L sehari terkenal.

Saat namanya disebut dalam koran sebagai pembunuh. 

Setelah itu, ia hanya sebuah nama, yang jika hilang pun dunia tak kan rugi.

L "mati" sebagai pembunuh dan lahir kembali sebagai barista.

Proses kelahiran L layaknya ibu melahirkan. 

Sulit dan sakitnya minta ampun, tapi mengandung harap. 

Bahagia tiba bersama tangis pertama si bayi.

Saya meliput L tanpa sengaja. Kala ngopi di Cafe tempat ia bekerja sebagai barista.

Saat itu L melayani saya dengan ramah. Rasa kopi buatannya sangat nikmat.

Saya pun iseng iseng bertanya. L langsung cerita. Saya pun takjub.

Halaman
123
Sumber: Tribun Manado
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

Berita Populer

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved