Catatan Wartawan
Buta Sejak Lahir
Kisah Aldrin seolah jadi tamparan bagi orang lain untuk selalu bersyukur di setiap keadaan.
Penulis: Ventrico Nonutu | Editor: Ventrico Nonutu
Setiap orang pasti punya kelebihan dan kekurangan.
Kelebihan patutlah untuk disyukuri dan dipergunakan dengan baik.
Sedangkan kekurangan, tentu harus bisa kita sikapi dengan bijak.
Hari ini Minggu (9/9/2025), saya berkesempatan beribadah di Gereja GMIM Rut Suwaan.
Ibadah berlangsung khusyuk.
Di tengah-tengah jemaat, hadir pula pasangan tunanetra. Si pria bernama Aldrin.
Mereka membawa seorang anak ikut beribadah.
Tak hanya itu, mereka pun diberikan kesempatan untuk menyampaikan kesaksian.
Pasangan tersebut maju ke samping mimbar.
Mereka berjalan perlahan dan dibantu Pelayan Khusus (Pelsus) menaiki dua anak tangga.
Mereka kompak tampil dengan pakaian berwarna biru tua.
Saat memperkenalkan diri, Aldrin memeluk anaknya yang berusia kira-kira 1 tahun, sedangkan sang istri membantu memegang mic.
Saat itu, suasana dalam gereja tenang. Jemaat tampak menyimak.
"Saya sudah tunanetra sejak lahir," kata Aldrin.
Sang istri juga sama, namun masih bisa melihat sedikit.
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.