Sulawesi Utara
Menuju Sulut Maju, Sejahtera dan Berkelanjutan

Opini

Makan Bergizi Gratis, Harapan dan Tantangan

PROGRAM makan bergizi gratis adalah sebuah program nasional yang digagas selama masa kampanye dari presiden terpilih Prabowo Subianto

Editor: David_Kusuma
Dok Tribun Manado
Adi Tucunan 

Oleh : Adi Tucunan (Staf Pengajar FKM Unsrat manado)
 
PROGRAM makan bergizi gratis (MBG) adalah sebuah program nasional yang digagas selama masa kampanye dari presiden terpilih Prabowo Subianto yang sekarang ini mulai dijalankan di beberapa daerah.

Adapun anggaran yang disiapkan dalam APBN berkisar 71 triliun rupiah dan diharapkan anggaran untuk makan bergizi gratis ini bisa dijalankan selama 5 tahun masa kepemimpinan presiden Prabowo. Merujuk pada salah satu pernyataan petinggi Bappenas menyebutkan bahwa tujuan utama dari MBG adalah kehadiran anak di sekolah semakin baik, mencegah anak putus sekolah dan menciptakan hasil pembelajaran yang optimal.

Artinya program ini memiliki tujuan mulia untuk mencerdaskan anak negeri. Selain itu sasaran daripada makanan bergizi gratis itu adalah ibu menyusui dan ibu hamil, bukan hanya terbatas pada anak sekolah. Karena kritik dari pakar kesehatan dalam hal ini, yaitu jika mau mencegah defisiensi makanan pada anak-anak apalagi mencegah stunting yang menjadi persoalan anak-anak di Indonesia, maka yang harus diberikan gizi yang baik adalah dari sejak dalam kandungan dan setelah melahirkan.

Program MBG ini adalah program populis yang bisa menjadi relevan dengan kebutuhan masyarakat Indonesia, sekaligus bisa menjadi sebuah paradoks karena persoalan yang muncul yang tidak ditangani dengan serius.

​Pertanyaan penting terhadap program MBG ini adalah, apakah ini akan menjadi sebuah harapan bagi perbaikan nutrisi anak-anak di Indonesia untuk mencegah malnutrisi, stunting dan rendahnya kecerdasan manusia Indonesia ataukah ini hanya menjadi sebuah kewajiban retoris memenuhi janji kampanye politik dari penguasa saat ini?

Jika kita melihat pada persoalan saat ini yang muncul dengan berbagai isu yang beredar, seperti anggaran MBG ini belum dibiayai sepenuhnya oleh negara tetapi menggunakan dana pribadi presiden dan untuk anggaran yang tersedia saat ini hanya bisa dilaksanakan sampai pertengahan tahun, alias tidak punya uang untuk meneruskan itu. Maka, ini akan menciptakan persoalan baru dan beban bagi pemerintah saat ini.

Darimana uang yang harus diambil untuk alokasi anggaran MBG ini? akan sulit untuk percaya bahwa negara ini memiliki uang yang cukup untuk mendanai MBG secara berkelanjutan. Secara politik, ini akan menjadi beban bagi pemerintahan presiden hari ini karena janji politik saat kampanye harus dijalankan, apalagi ini bisa menjadi target masa depan untuk suara electoral.

Jika MBG ini berhasil, maka presiden akan memiliki reputasi yang cukup dari sini berpeluang terpilih kembali karena dianggap mampu menjalankan janji-janji kampanye. Sebaliknya jika program MBG ini gagal, maka tidak ada alasan bagi rakyat untuk mempercayai janj-janji presiden dan kemungkinan besar mereka tidak akan memilih lagi.

Program MBG ini memang sebuah program populis untuk rakyat di saat rakyat kesulitan memenuhi kebutuhan sehari-hari karena begitu banyak persoalan dasar di Indonesia termasuk kemiskinan dan masalah pendidikan yang kompleks karena anak-anak Indonesia dalam ancaman masa depan.

Pemerintah pasti cemas dengan situasi hari ini, karena seandainya anak-anak Indonesia dibiarkan tidak dibantu dari aspek nutrisi dan gizi yang baik, maka ini akan mengakibatkan bencana politik bagi Indonesia sendiri, karena kita tidak bisa berharap banyak dengan propaganda ‘Indonesia Emas 2045’.

Sebuah agenda politik pemerintah harus benar-benar dicurahkan untuk membuat program ini berhasil, karena jika sasarannya adalah suara electoral di 2029 dan Indonesia Emas 2045, mau tidak mau pemerintah harus mengeluarkan energi ekstra untuk mencari cara bagaimana mendapatkan anggaran untuk membiayai program ini serta memberikan keseimbangan dengan program pemerintah yang lain.

​Ada banyak kompleksitas politik yang dihadapi dari program MBG ini, kita berharap agar situasi semasa pandemi Covid-19 tidak terjadi dimana terjadi re-focusing anggaran, semua departemen harus membatasi pengeluaran karena separuh dari anggaran dari mereka diarahkan untuk mengatasi pandemi saat itu.

Jika Pemerintahan Prabowo tidak mau malu di depan rakyatnya karena janji politik yang bombastis itu, maka mau tidak mau dia akan kerahkan semua sumberdaya untuk membuat program MBG ini berhasil. Konsekuensinya, akan ada banyak program lain termasuk infrastruktur yang akan dihambat dan tidak menjadi prioritas. Oleh karena itu, inilah yang boleh disebut makanan akan menjadi faktor penentu gagal tidaknya kepemimpinan nasional yang mampu mengejewantahkan semua retorika politis yang disampaikan.

Makanan di satu sisi akan menjadi senjata makan tuan bagi presiden jika ini menciptakan kegaduhan karena gagal kelola akibat korupsi dalam pengelolaannya, ketidakmatangan strategi distribusi kepada siapa program MBG ini dijalankan dan inadekuat anggaran sehingga nilai gizi MBG ini dipertaruhkan dan akhirnya gagal meningkatkan status gizi anak-anak Indonesia dan kaum rentan seperti masyarakat miskin menjadi lebih sejahtera.

​Harapan untuk menjadikan anak-anak Indonesia keluar dari kebodohan karena salah satu alasan akibat kegagalan memberikan keadilan berupa distribusi pangan yang memadai, menjadi tujuan besar dari program MBG ini. Kita berharap banyak bahwa pemerintahan hari ini mengambil langkah-langkah penting mengatasi berbagai tantangan yang ada hari ini.

Sumber: Tribun Manado
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved