Opini
Makan Bergizi Gratis, Harapan dan Tantangan
PROGRAM makan bergizi gratis adalah sebuah program nasional yang digagas selama masa kampanye dari presiden terpilih Prabowo Subianto
Untuk menjadikan negeri ini memiliki generasi yang unggul, kita perlu ada good governance dan kejujuran dari para elit pemerintahan yang terkenal korupsinya di mana-mana, supaya setiap program baik yang bertujuan mensejahterakan rakyat dan secara khusus membuat anak-anak Indonesia mendapatkan sumber nutrisi yang baik dapat terlaksana.
Kekhawatiran bahwa pengelolaan anggaran tidak tepat sasaran dan rendahnya pengawasan dari pimpinan negara sendiri akan menjadikan program ini bumerang bagi Pemerintah sendiri. Perlu ada orang-orang dengan integritas tinggi dan visioner yang mengelola program MBG ini supaya tidak dikorupsi di tengah jalan.
Pentingnya tata kelola pemerintahan yang baik dan jujur sangat diharapkan untuk mengelola program ini, karena hambatan utama selama ini dari pemerintahan kita adalah defisit mentalitas yang baik untuk melihat program dari sisi kepentingan publik bukan kepentingan diri mereka sendiri. Karena dalam faktanya, banyak sekali program yang mengalami fraud karena akibat konflik kepentingan yang sangat besar, sehingga mengabaikan agenda negara yang amat penting yaitu kesejahteraan rakyatnya.
Dampak besar yang akan kita ciptakan dari program MBG ini adalah ketahanan nasional lewat kuatnya fisik dan otak anak-anak Indonesia di kemudian hari, sekaligus menjadi harapan bagi generasi yang akan memegang tongkat estafet bangsa.
Jika kita mengumandangkan Indonesia Emas 2045, hanya dalam tataran retorika dan tidak punya political will yang kuat untuk menghancurkan perilaku korup para pejabat dan penjilat di negaran ini, maka kita kesulitan untuk menyelesaikan setiap masalah yang kita ciptakan sendiri. Kita tidak hanya berhadapan dengan anggaran negara yang minim tapi juga perilaku korup di mana-mana di semua institusi negara , dan ini semua akan menghalangi kita menjadi negara sejahtera.
Anak-anak Indonesia yang tidak mendapat gizi sejak dini akan menjadi anak-anak yang tidak memiliki kecerdasan yang cukup untuk meneruskan pemerintahan di masa mendatang. Otomatis mereka tidak punya kemampuan mengelola negara karena masa depannya telah disabotase oleh elit politik yang rakus.
Saya berharap presiden punya keberanian untuk mengeksekusi pejabat yang melakukan korupsi terhadap program MBG ini dengan seberat-beratnya. Karena ini bukan tentang memberi makanan saja, tapi tentang memberi harapan kepada anak-anak bangsa kita.
Korupsi terhadap anggaran MBG adalah sebuah kejahatan yang sistematis dan terorganisir. Baru-baru ini BPOM menyebutkan ada jenis makanan yang sudah basi yang terdeteksi akan diberikan kepada anak-anak sekolah dalam program MBG ini. Ini indikator bahwa pengawasan yang tidak cukup terhadap pengelolaan program ini akan berdampak buruk bagi kesehatan anak-anak di Indonesia.
Indonesia tidak boleh lagi bermain-main dengan generasi penerus bangsa, karena kita sudah terlalu jauh ketinggalan dengan anak-anak dari negeri lain yang mendapat perhatian serius dari pemerintah mereka.
Program MBG ini membutuhkan kolaborasi dari semua pihak agar terlaksana dengan baik. Pemerintah perlu bekerjasama dengan masyarakat untuk memiliki keterbukaan terhadap program ini dan jangan ditutup-tutupi jika ada kesalahan yang terjadi.
Masyarakat yang melihat dan menilai serta menyebarluaskan program yang gagal, jangan diintimidasi oleh aparat karena tujuannya agar terjadi pengawasan dari semua pihak untuk membuat program ini berhasil. Belajar dari kesalahan terhadap program yang gagal adalah hal yang baik, sehingga kita belajar memperbaikinya.
Kecenderungan untuk menutupi kesalahan dibanding mengoreksinya, yang telah menjadi aib di negeri ini harus dieliminasi supaya setiap tata kelola program bisa terlaksana dengan baik. Berikan tanggungjawab kepada orang-orang yang memiliki kredibilitas dan kapabilitas, bukan mereka yang hanya mencari profit dari situ.
Pada akhirnya, negara harus memikul tanggungjawab terhadap kebijakan publik ini untuk memastikan program MBG ini terlaksana, bukan meminta pihak lain atau masyarakat membantu membiayai program ini, karena memang tugas negara adalah mensejahterakan rakyat yang berada di garis kemiskinan.
Sekali lagi, makan bergizi gratis ini bukan tentang seberapa banyak makanan yang dimakan dan nilai nutrisinya tapi tentang bagaimana membuat peradaban di Indonesia menjadi lebih baik dan ke depan bisa berkompetisi dengan anak-anak muda dari negara lain karena memiliki kecerdasan yang sama karena disuplai oleh negara dengan nutrisi yang baik.
Janganlah pemerintahan yang dipimpin generasi tua terus berpikiran tua sesuai umur mereka, tapi setidaknya mereka punya visi jangka panjang yang bisa melihat apa yang akan terjadi dengan negeri ini kalau dikelola dengan baik, sehingga anak-anak Indonesia hari ini, juga akan berpikir tentang generasi di atasnya karena mereka diwariskan niat baik dari para pendahulunya.
Jangan jadikan program MBG ini kebijakan politis dan hanya menguntungkan dari aspek popularitas karena memang ini menarik pemberi suara; tapi biarlah kebijakan ini berorientasi kepada masa depan anak-anak di Indonesia kelak. (*)
| Bahasa yang Ditinggalkan: Ketika Sastra Tak Lagi Menjadi Rumah Berpikir di Sekolah |
|
|---|
| Otokritik atas Turunnya Posisi Manado dalam Indeks Kota Toleran |
|
|---|
| Hari Kartini dan Tantangan Demokrasi di Bumi Nyiur Melambai |
|
|---|
| Ketika AI Semakin Akurat dari Dokter: Apa yang Terjadi pada Profesi Medis dan Kemanusiaan? |
|
|---|
| Warisan Budaya Tak Benda Harus Diapakan? |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/manado/foto/bank/originals/adi-tucunan-bahas-opini.jpg)