Opini
Bakaca Diri: Jenderal Berhati Domba
Bagi Guan Yu, moral mestinya lebih daripada sekadar aturan hukum, apalagi bila hukum itu diselewengkan oleh para penguasa dan lingkup istana sendiri.
Oleh: Stefi Rengkuan
Publisher
Ketua Kawanua Katolik
Pengurus Ikatan Alumni Sekolah Tinggi Filsafat Seminari Pineleng (STFSP)
FILM berjudul The Lost Bladesman (2011) dimulai dengan upacara penghormatan kepada arwah Guan Yu, yang jasadnya tinggal kepala saja dikirimkan kepada Caocao yang justru menjadi lawan dari Liu Bei, kakak angkat dari Guan Yu sendiri. Sosok Guan Yu tetap dihormati oleh lawannya sendiri, dalam hal ini Caocao yang punya ambisi besar menjadi penguasa juga di negeri Han. Caocao menyesali dan meratapi meninggalnya Guan Yu dengan tragis, padahal dia pernah berusaha membujuknya untuk bergabung di pihaknya.
Sang biksu kerajaan menggambarkan Guan Yu sebagai jenderal mulia yang 'dirinya' berhati 'domba', dua kata yang membentuk kata berbudi atau bermoral (dalam bahasa Han). Kemuliaan sang jenderal memiliki enam segi kasih dalam agama leluhur. Caocao menimpali dengan raut penyesalan, "Kalau seorang mulia berkarakter surgawi seperti Guan Yu saja bisa meninggal, siapakah yang tersisa untuk menjalani Jalan (kehidupan dan kebenaran)?" Bagi Caocao, kemuliaan ini adalah tragis, karena Guan Yu "sesungguhnya adalah serigala dan serigala yang berhati domba”. Sayangnya dunia ini milik para serigala, ya dunia para serigala.
Film ini menjadi sangat menarik selain karena alur kisah yang diambil dari kisah klasik Tiga Negara yang berisi nilai-nilai para ksatrianya, dan diperankan oleh para bintang yang terkenal papan atas berkarakter yang sudah membintangi sejumlah film laris berkualitas. Bahkan pengisi suara kisah film itu adalah seorang Andy Lau.
Ya, kisah tentang jenderal Guan Yu (diperankan Donny Yen) yang dalam suatu peristiwa terpaksa berada di dalam wilayah kekuasaan kerajaan Wei. Nahasnya dia sedang mengawal isteri Liu Bei, Qi Lin (diperankan Sun Li) dalam suatu perjalanan. Karena ditolong oleh jenderal Caocao (diperankan Jiang Wen) dengan memberi makanan dan minuman serta tempat menginap, maka sebagai ungkapan terima kasihnya, Guan Yu bersedia membantu Caocao untuk menaklukkan beberapa musuh kerajaan.
Tetapi kesetiaan Guan Yu tetap pada Liu Bei, yang juga punya visi misi mengembalikan kembali kejayaan dinasti Han yang terpecah belah untuk kembali berdamai dan bersatu. Bagi Guan Yu, Liu Bei tetaplah sang pemimpin yang layak dipercayai dan disetiai, bukan hanya sebagai saudara angkat yang berikrar sehidup semati bertiga bersama Zhang Fei di bawah pohon persik untuk menegakkan kerajaan, tapi lebih mendasar darinya adalah nilai-nilai moral kemanusiaan yang mereka junjung tinggi.
Makin menarik merefleksikan narasi film ini sejak pembuka dan sampai penutup justru diceritakan dari sudut pandang seorang jenderal Caocao yang kontroversial dan ambisius tapi yang sangat mengagumi bahkan menghormati Guan Yu. Ada titik temu tapi juga titik pisah dari kedua tokoh utama film ini, dan semuanya dihubungkan atau terhubung dengan sendirinya dengan sosok Liu Bei yang kemudian, menurut sejumlah ahli, disebut sebagai kaisar terbesar dalam sejarah Tiongkok kuno tersebut.

Jelaslah kisah ini terinspirasi dari sebagian rangkaian peristiwa yang tercatat sebagai perang terbesar dalam sejarah Tiongkok kuno, sekitar abad ke-3 Masehi, yang disebut Sam Kok atau San Guo, artinya perang tiga negara. Tetapi satu peristiwa besar itu ditulis dalam dua buku yang masing-masing ditulis berbeda zaman. Ada dua versi utama dari kisah perang ini sebagaimana tertuang dalam dua buku tentang perang itu, dan kiranya para sejarawan sendirilah yang paling bisa menilai konteks dan tujuan dua versi tersebut. Mana yang paling mendekati kebenaran atau kejadian sebenarnya? Siapa yang bisa memastikan, dan apa bukti-bukti utama dan pendukungnya?
Yang diakui pasti bahwa kedua buku tersebut saling melengkapi, walau sudah diselingi kisah-kisah fiktif yang bisa jadi bersifat imaginasi pemanis atau memang sesuai pesanan penguasa atau yang menjadi pihak yang menentukan buku itu ditulis. Menurut para ahli, buku karya Luo Guan Zhong berjudul San Guo Yan Yi (pembeberan kebenaran tentang tiga negara) kiranya melengkapi apa yang sudah lebih dulu ditulis oleh Chen Shou dalam buku San Guo Zi (catatan tentang tiga negara) pada sekitar tahun 220 - 280 Masehi.
Dari catatan para ahli sejarah itu, misalnya jelas diakui fakta sejarah tentang tiga tokoh bersaudara angkat itu, yaitu Liu Bei, Guan Yu, Chang Fei dan peranan mereka bersama para ksatria lainnya yang tergabung dalam lima pendekar tinggi negeri Han. Mereka telah menjadi teladan turun temurun khususnya dalam hal kepemimpinan yang bermoral bagi masyarakat Tiongkok. Liu Bei adalah pewaris dari trah yang dianggap paling sah dan berusaha kembali mempersatukan dinasti Han yang didirikan oleh Liu Bang pada abad 206 sebelum Masehi, tapi kemudian tercerai berai menjadi tiga negara wilayah (Shu, Wei, Wu) yang saling berperang memperebutkan kuasa dan pengaruh dan berakhir pada 220 Masehi. Dalam konteks inilah kisah film ini menjadi makin menarik disimak, bagaimana menarik benang merah para tokoh penting dalam sejarah sekitar 426 tahun itu, walau sudah dengan bumbu penyedap rasa tersendiri dari sang sutradara film.
Antara hukum dan moral misalnya, jelas pembedaan dan pemisahan yang diperankan dua sosok besar tersebut. Bagi Guan Yu, moral mestinya lebih daripada sekadar aturan hukum, apalagi bila hukum itu diselewengkan oleh para penguasa dan lingkup istana sendiri. Hukum itu mesti membela kemanusiaan. Tapi bagi Caocao yang selalu berpikir pragmatis, hukum itu mengatasi segalanya termasuk mengorbankan ribuan nyawa prajurit sekalipun demi idealisme stabilitas dan persatuan kerajaan.
Namun demikian, walau berbeda prinsip ini, Caocao justru makin menghormati dan mengagumi saudara angkat Liu Bei ini yang berebut pengaruh dan kuasa dengannya di antara para penguasa negeri yang ada pada saat itu, dalam upaya mempersatukan kembali diansti Han raya.
Selain kesetiaan akan ikatan janji persaudaraan sehidup semati tiga ksatria utama Han (Liu Bei, Guan Yu, Zhang Fei), jenderal Guan Yu digambarkan memiliki ilmu tinggi pedang besar atau pedang tombak naga, bisa menyerang dan menangkis sekaligus (kelung). Juga dalam film ini jenderal yang diperankan oleh aktor berkarakter Donnie Yen, merepresentasikan janji bahkan sumpah bermeterai darah tiga ksatria dalam perang tiga negara, San Guo atau Sam Kok, yakni integritas moral etik untuk selalu setia satu sama lain berjuang sampai negeri Han bersatu dan berdamai.

Secara khusus tergambar pula ilmu kendali dirinya yang mumpuni, semacam ilmu kundalini. Dia mampu kembali menyadari diri dan mengatasi godaan, kendati obat penguat nafsu seksual telah ditaburkan dalam minumannya, dan kemudian disodori perempuan cantik di kamar tidur, hanya karena sang wanita tak lain adalah Qi Lin, kakak iparnya sendiri (isteri Liu Bei, kakak pertama).
Ini menegaskan lagi kesetiaan Guan Yu terhadap saudara pertama Liu Bei sebagai ksatria yang patut dipercayai dan disetiai dengan penuh tunduk dan hormat. Dalam film ini selir Liu Bei dikisahkan pernah menjadi kekasihnya itu kembali merasa jatuh cinta kepada Guan Yu saat di dalam kamar dan mengalami betapa berprinsip dan terhormatnya sang jenderal yang sama sekali tidak jatuh dalam godaanya. Dalam kisah San Guo Yan Yi, perempuan isteri Liu Bei itu bukan bernama Qi Lin, melainkan perempuan bermarga Wu. Kekasih Guan Yu sebenarnya adalah seorang pendekar wanita yang akhirnya berpisah dan membuatnya bertekad untuk tidak mencintai wanita lain lagi. Dan jelas ini masih sejalan dengan karakter Guan Yu yang digambarkan dingin hatinya untuk menerima cinta sang adik ipar.
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.