Opini
Mesin Industri Ganggu 'Metabolisme Negara', Macan Asia Bangun
Gejolak sosial yang bergejolak di jalan-jalan bukan sekadar ekspresi ketidakpuasan, melainkan gejala dari kerusakan mendalam
Penulis: Efraim Lengkong
Penasehat Ormas Brigade Manguni Indonesia (BMI)
MEREFLEKSIKAN pasca-demo besar besaran yang melibatkan ribuan warga dari berbagai lapisan masyarakat di 34 provinsi, 28–30 Agustus hingga awal September 2025, negara tampak seperti tubuh yang kehilangan kendali atas sistem metaboliknya sendiri.
Hal ini menunjukkan bahwa ada akumulasi racun dalam sistem negara. Racun yang menimbulkan 'alienasi' yang muncul akibat ketimpangan, ketidakadilan sosial, yang ditetapkan pemerintah, dalam hal ini "legislatif dan eksekutif". Terlebih penerapan hukum yang tidak adil di pengadilan negeri sampai Mahkamah Agung.
Gejolak sosial yang bergejolak di jalan-jalan bukan sekadar ekspresi ketidakpuasan, melainkan gejala dari kerusakan mendalam dalam sistem pengelolaan kehidupan bersama.
Gangguan Metabolik Perubahan Iklim bukan hanya proses biologis, tetapi juga metafora untuk hubungan timbal balik antara sistem kehidupan dan lingkungan yang menopangnya, "Vandana Shiva dalam The Nature of Nature": The Metabolic Disorder of Climate Change".
Ketika metabolisme terganggu, tubuh tidak lagi mampu menyerap, mengolah, dan mendistribusikan energi secara sehat.
Begitu pula negara: ketika sistem politik, ekonomi, hukum dan ekologinya tidak lagi selaras, maka yang muncul adalah stagnasi, resistensi, dan akhirnya, ledakan.
Negara yang seharusnya menjadi ruang metabolik bagi warganya, tempat energi sosial diolah menjadi kebijakan dan keadilan hukum yang menyehatkan, justru menjadi mesin yang mengkonsumsi harapan dan memproduksi ketakutan.
Ironisnya pengadilan yang menjadi benteng terakhir rakyat untuk mencari keadilan, berubah menjadi mesin produksi, kata Mahfud MD, "hukum di Indonesia sering dijadikan industri".
Negara menjadi 'entitas' yang memaksakan efisiensi tanpa empati, pertumbuhan tanpa keberlanjutan, dan kontrol tanpa kepercayaan.
Vandana Shiva mengingatkan bahwa solusi tidak terletak pada teknologi tinggi atau algoritma kebijakan, melainkan pada pemulihan hubungan organik antara manusia dan alam, antara warga dan negara.
Negara harus belajar dari ekosistem: bahwa keberagaman adalah kekuatan, bahwa regenerasi lebih penting dari pada eksploitasi, dan bahwa keseimbangan lebih berharga daripada dominasi.
Demo Agustus hingga awal September 2025, bukan sekadar peristiwa politik, tetapi momen metabolik: tubuh sosial sedang berusaha mengeluarkan racun, mencari oksigen, dan menuntut nutrisi yang sehat berupa keadilan, transparansi, dan partisipasi.
Imbas dari demo, si "macan asia" seakan terbangun dari tidur. Senin (8/9/2025). Presiden RI Ke-8 melakukan reshuffle kabinet. Sebanyak lima menteri kena ganti dan satu menteri dilantik lantaran baru menjadi pos kementerian.
| Bahasa yang Ditinggalkan: Ketika Sastra Tak Lagi Menjadi Rumah Berpikir di Sekolah |
|
|---|
| Otokritik atas Turunnya Posisi Manado dalam Indeks Kota Toleran |
|
|---|
| Hari Kartini dan Tantangan Demokrasi di Bumi Nyiur Melambai |
|
|---|
| Ketika AI Semakin Akurat dari Dokter: Apa yang Terjadi pada Profesi Medis dan Kemanusiaan? |
|
|---|
| Warisan Budaya Tak Benda Harus Diapakan? |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/manado/foto/bank/originals/Efraim-Lengkong-Opini-New.jpg)