Opini

Peran Aparatur Sipil Negara di Era Digital

SUMBER daya manusia saat ini dalam setiap peran dan fungsinya mengalami sebuah transformasi yang sangat cepat dan berbeda dengan era sebelumnya

Editor: David_Kusuma
Dok Pribadi
Sherly Grace Makanoneng SE ME 

Oleh:
- Sherly Grace Makanoneng SE ME & dr Ardiansa AT Tucunan Mkes

SUMBER daya manusia saat ini dalam setiap peran dan fungsinya mengalami sebuah transformasi yang sangat cepat dan berbeda dengan era sebelumnya.

Kita berhadapan dengan situasi di mana segala sesuatu tidak lagi sekedar mengandalkan otot tetapi otak dalam bekerja; tidak hanya bekerja dengan mengandalkan prosedur tetap sebagai panduan tetapi lebih kepada inovasi dan kreativitas yang dapat mencari solusi terhadap berbagai persoalan dan kemelut dalam dunia pekerjaan.

Pasca pandemi Covid-19, kita semua diajarkan bagaimana model dan metode baku semua aktivitas birokrasi dalam sistem pemerintahan tidak lagi mengandalkan cara kerja manual dan terprogram, tapi saat ini kita berhadapan dengan sebuah tantangan era digital yang begitu membuat kita harus beradaptasi dan mengadopsi cara-cara baru dengan pemanfaatan teknologi yang hari ini membuat kita semua dipaksa bekerja dalam ruang dan waktu yang terkendali secara digital.

Aparatur Sipil Negara (ASN) sebagai bagian dari alat negara untuk menjalankan perannya sebagai pengayom masyarakat dan berada di barisan terdepan dalam melayani masyarakat, perlu terus belajar dan membenahi diri mereka dengan cara-cara baru.

Mengembangkan digital mindset saat ini menjadi suatu pilihan utama di era yang serba cepat dan ini menuntut setiap elemen di pemerintahan bekerja lebih cepat dan smart, karena kita tidak bisa ketinggalan dengan sumberdaya manusia di negara-negara yang sudah lebih maju baik dari cara kerja secara teknis maupun dalam cara berpikir mengembangkan dunia kerjanya.

Hari ini kita masih melihat betapa tertinggalnya sebagian besar ASN kita dalam bekerja, mereka tidak cukup disiplin, mereka bekerja hanya mengandalkan instruksi, mereka tidak mau merambah ke hal-hal baru karena mereka senang berada di zona nyaman, tidak mau mengembangkan potensi mereka.

Dan inilah yang membuat negara gagal menciptakan sebuah tata pemerintahan yang efektif dan akuntabel karena dikerjakan oleh tangan-tangan manusia yang kurang kompeten dan tidak mau bergerak maju.

Tentu saja, kita semua harus disadarkan dalam era digital ini bahwa segala yang serba cepat akan menggilas segala yang bekerja lamban, artinya kita tidak akan menghasilkan sebuah nilai dan etos kerja yang baik jika ASN yang bertugas sebagai pelayan publik tidak mampu memberikan energi mereka secara lebih baik.

Jumlah ASN di Indonesia yang hampir mencapai 5 juta orang, memang masih tergolong minim dibanding dengan banyak negara lain di dunia yang ASN-nya melebihi rasio penduduk mereka untuk dilayani; tetapi yang harus diingat bahwa di negara-negara yang sudah lebih maju, ASN mereka bekerja lebih mengandalkan pada teknologi tepat guna untuk menyelesaikan banyak pekerjaan mereka, sehingga efektivitas dan efisiensi dapat terlaksana dengan baik, dengan demikian good governance adalah sebuah produk di negara mereka.

ASN di Indonesia harus belajar lebih banyak dalam pemanfaatan teknologi dengan cara-cara yang produktif, kita tidak lagi bisa mengandalkan pekerjaan manual untuk setiap laporan yang hanya menghabiskan anggaran untuk setiap ala-alat perkantoran.

Mantan Menteri Pendayagunaan Aparatur Sipil Negara Cahyo Kumolo pernah mengatakan bahwa pasca pandemi covid-19, kita disadarkan bahwa banyak pekerjaan seharusnya tidak membutuhkan lebih banyak ASN tapi sedikit saja dan pekerjaan itu dapat dilakukan dari rumah tidak harus di kantor untuk membuat segala sesuatu efisien dan tidak mengeluarkan banyak anggaran, seperti di negara-negara yang sudah lebih maju.

Kita di Indonesia masih mengukur kinerja ASN dari seberapa banyak dia menandatangani daftar hadir via finger print, seberapa tertib waktu pulang kantor; padahal di era digital semua ini seharusnya sudah dibalik ASN yang bekerja dari rumah dengan menggunakan teknologi selayaknya sudah menjadi sebuah keharusan, bukan masih diatur dengan pola lama.

Pada akhirnya, banyak yang hanya muncul di kantor dan tidak bekerja apa-apa karena tidak tahu apa yang dilakukan, karena kurang kreatif.

Halaman
12
Sumber: Tribun Manado
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    berita POPULER

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved