Citizen Reporter
Melawan Oligarki dan Romantisme Aktivis Mahasiswa
Kebijakan dalam test PCR yang membebani rakyat telah memberi keuntungan triliunan bagi segelintir oknum pejabatnya dan oligarki.
Oleh: Syamsuddin Radjab
Direktur Eksekutif Jenggala Center - Mantan Ketua PBHI
SITUASI Indonesia dalam kondisi tidak menentu karena kebijakan pemerintah gonta-ganti ditengah kondisi Covid-19. Bahkan kebijakan seperti dalam kasus PCR yang membebani rakyat diciptakan untuk meraup keuntungan berjumlah triliunan untuk kepentingan pejabatnya dan oligarki.
Hal ini memberi pengaruh terhadap penanganan kasus covid-19 tak tertangani secara baik, iklim investasi terganggu, dan perbaikan ekonomi melambat.
Sementara pejabatnya mengambil rente dari kebijakannya sendiri dengan konco-koconya dan bukan untuk rakyat. Oligarki adalah penyebabnya karena para elite tengah membajak demokrasi ke arah yang sangat membahayakan masa depan bangsa ini.
Karena itu, menurut saya oligaki tak bisa dibiarkan tumbuh subur di negara ini.
Semua pihak, terutama kaum intelektual dan aktivis, harus menyampaikan ide, sudut pandang dan solusi harus untuk membendung pembajakan demokrasi yang dilakukan para elit negeri ini.
Itu penting menurut saya, karena suatu ide baik sekalipun kalau dia tidak diperjuangkan akan susah diraih. Karena kadang-kadang negara atau pemerintah, mengabaikan atau lalai terhadap tanggungjawabnya untuk membangun negara ini sendiri menjadi negara yang adil, sejahtera dan makmur.
Bahkan cenderung kekuasaanya digunkan untuk mengeksploitasi rakyatnyta untuk kepentingan pribadi, dan oligarki. Termasuk era sekarang ini, dan ini harus dilawan," ujar Syamsuddin Radjab.
Hal ini saya sampaikan saat menjadi pembicara tunggal dalam diskusi dengan tema Aktvis dan Hukum yang diinisiasi Tribun Timur dan Tribun Network secara virtual, Sabtu (13/11/2021).
Menurutnya, kaum intlektual dan aktivis harus duduk bersama menyamakan persepsi dan mengosilidasi semua kekuatan untuk menemukan solusi dalam rangkat menghadang pergerakan oligarki tumbuh subur di negara ini.
Karena itu dunia aktivisme itu adalah dunia gerakan, gerakan untuk menginginkan sesuatu dan dengan ideologi-ideologi yang dia yakini untuk itu dia diwujudkan.
Jadi dia masuk dalam kerangka yang sangat idealitas di dalam pikiran yang ingin diwujudkan di dalam kenyataan.
Aktivis jangan hanya mengandalkan pergerakan. Pergerakan tidak akan berarti jika tidak diimbangi dengan pengatahuan (knowledge). Pergerakan dan pengetahuan sama-sama penting dalam dunia aktivisme.
Romantisme Aktivis
Saya teringat saat memasuki dunia aktivisme. Saya sudah memasuki dunia aktivis sejak masih berusia remaja.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/manado/foto/bank/originals/dr-syamsuddin-radjab.jpg)