Citizen Reporter

Melawan Oligarki dan Romantisme Aktivis Mahasiswa

Kebijakan dalam test PCR yang membebani rakyat telah memberi keuntungan triliunan bagi segelintir oknum pejabatnya dan oligarki.

Dokumen Syamsuddin Radjab
Dr Syamsuddin Radjab (Direktur Eksekutif Jenggala Center - Mantan Ketua PBHI) 

Dari sekian banyak yang terpajang di kamar, saya mengaku senang membaca buku berjudul Kudeta: Teori dan Praktik Penggulingan Kekuasaan karya Edward N. Luttwak.

Masa-masa itu kalau tidur ya tidur dengan buku , pada masa tertentu ya. Kemudian masuk UIN dan semester 3 saya sudah jadi ketua umum senat fakultas.

Waktu itu ketua umum senat universitas termuda se-Indonesia. Semester 5 sudah jadi Ketua Umum Senat IAIN Alauddin Makassar walaupun tidak diakui oleh rektorat.

Tidak diakui, tapi saya diberi fasilitas sendiri. Karena saya sejak ketum fakultas (1996-1997) dan ketum di universitas (1998-2000), jadi susana dinamisnya secara eksternal menarik dari sisi isu-isu politik , politik kekuasaan sehingga harus kita terjun langsung memenej mahasiswa dan gerakan-gerakan lainnya.

Saya juga teringat pada 1997, para aktivis mahasiswa di Makassar menggulirkan isu reformasi. Kami intensif untuk komunikasi aktivis lintas kampus lain.

Biasanya pada malam hari itu kita konsolidasi, rapat-rapat untuk persiapan aksi di kampus masing-masing, ketemu di satu titik, rute-rutenya juga sudah ditentukan.

Selain menjadi Ketua Umum Senat UIN Alauddin, saya juga aktif di organiasasi ekstra kampus yakni Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) dan membentuk banyak organ gerakan lainnya.

Saya masuk HMI dari IPM itu karena pertimbangan politik taktis strategis. Waktu itu UIN itu yang menguasi adalah HMI.

Jadi tanpa mengubah strategi kepentingan taktis itu seperti itu, harus kita berbaur dengan kolompok mayoritas untuk menjadi bagian dari kekuasaan.

Kemudian setelah dinyatakan lulus dan menjadi sarjana, saya menjadi dosen di kampus tempat saya mengenyam pendidikan S1. Namun, saya tidak meninggalkan dunia aktivismenya.

Saya terus mendukung aktifitas mahasiswanya yang kerap menyelenggarakan training basic kepemimpinan. Gaji saya sebagai dosen, saya serahkan kepada mahasiswa.

Pada saat jadi dosen, semua gaji belum transfer. Diambil di bagian keuangan. Saya malas antre. Itu 3 tahun kalau tidak salah.

Waktu itu sistem penggajiannya harus diambil di bagian keuangan. Tiga tahun tidak pernah ambil gaji. Saya suruh aktivis-aktivis mahasiswa itu ambil gaji. Mereka pakai sendiri.

Kalau ada kegiatan-kegiatan mereka misalnya basic training itu ke koperasi ambil. Kadang-kadang sebut password nama saya kadang-kadang koperasi ngasih ini, ngasih itu.

Karena seperti itu mekanismenya saya pikir saya bukan kaya raya, itu uang ada hak orang lain juga. Itu untuk kepentingan ummatlah.

Halaman
1234
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    berita POPULER

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved