Citizen Reporter

Melawan Oligarki dan Romantisme Aktivis Mahasiswa

Kebijakan dalam test PCR yang membebani rakyat telah memberi keuntungan triliunan bagi segelintir oknum pejabatnya dan oligarki.

Dokumen Syamsuddin Radjab
Dr Syamsuddin Radjab (Direktur Eksekutif Jenggala Center - Mantan Ketua PBHI) 

Saya teringat saat memasuki dunia aktivisme. Saya sudah memasuki dunia aktivis sejak masih berusia remaja.

Dimulai sejak mengenyam pendikan SMP dan SMA. Ketika itu, saya dipercaya menjadi Ketua Umum Ikatan Pelajar Muhammadiyah (IPM) di Sulawaesi Selatan (1992-1993).

Saya juga pernah menyandang status tersangka di Polrestabes Makasar karena melakukan aksi demonstrasi.

Ketika saya jadi ketua IPM Sulsel, ada banyak catatan sejarah yang bisa ditanyakan ke alumni-alumni atau aktivis Muhammadiyah di Sulsel.

Kecil-kecilan ada pemberontakan kaum santri di masa saya dan itu geriliya yang dipakai karena saya waktu SMA itu sudah jadi tersangka oleh Polresta Makasar.

Tapi tidak ditahan karena dilingkup pesantren tapi kalau pemeriksaan saya selalu datang ke Makassar di Polrestabes Makassar kala itu.

Setelah lulus SMA, saya melanjutkan pendidikan di kampus UIN Alauddin Makasar. Sebelum memutuskan kuliah di UIN Allauddin Makassar, saya sempat mengikuti tes untuk kuliah di Timur Tengah, Kuwait.

Namun, menjadi salah satu mahasiswa di Kuwait tersebut tidak terwujud karena persyaratan bagi saya terlalu berat.

Waktu itu saya sudah hampir mau lari ke Jawa cuma orangtua mencegah. Ya sudah kuliah di IAIN Alauddin Makasar (Kini UIN Alauddin Makasar).

Jadi saya off satu satu tahun baru masuk kuliah. Mendaftar sebagai calon mahasiswa baru, saya menceritakan tidak ikut mengurus pendaftaran.

Yang mendatarkan sebagai calon mahasiswa baru di UIN Alauddin adalah teman-teman saya semasa di IPM.

Begitu masuk di UIN karena anggota saya yang dulu waktu jadi ketum IPM anggota saya yang duluan mahasiswa mereka inilah yang ngurus sana-sini pendaftaran saya.

Kalau kamu mau lihat saya kuliah, kamu ambilkan formulir pendaftaran. Jadi saya didaftarkan oleh mereka. Memang sudah ada pasukan saya di UIN sebelum masuk. Jadi sebelum invasi sudah ada infiltrasi. Jadi saya masuklah kuliah.

Saya sudah rajin membaca buku-buku sosial, politik, dan kepemimpinan sejak masih mengenyam pendidikan SMP dan SMA. Bahkan saat itu saya sudah memiliki koleksi 300 judul buku.

Halaman
1234
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    berita POPULER

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved