Muncul Petisi untuk Gubernur Sulut, Stop Siksa Kucing di Pasar Ekstrem Tomohon, Ada Peringatan WHO
Di dalam video itu terlihat sangat jelas, kucing disiksa dengan cara dicekik, dipukul dan dibakar hidup-hidup untuk dimakan.
Penulis: maximus conterius | Editor: maximus conterius
“Kami yakin Bapak sependapat bahwa tingkat kebrutalan terhadap anjing dan kucing itu sangat mengejutkan. Kami meminta Bapak memperhatikannya.”
Surat tersebut juga menekankan bahwa konsumsi daging anjing dapat mengancam kesehatan warga.
Pasalnya, banyak di antara hewan peliharaan itu tidak diketahui apakah terbebas dari rabies atau tidak.
“Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) telah secara eksplisit menyoroti perdagangan anjing untuk konsumsi manusia sebagai faktor yang berkontribusi terhadap penyebaran rabies di Indonesia," lanjut surat tersebut.
Para aktivis juga memperingatkan bahwa perdagangan ilegal dan tidak diatur berpotensi menimbulkan risiko kesehatan bagi orang-orang yang mengonsumsi daging anjing.
Alasannya, hewan-hewan itu ditempatkan dalam kandang atau karung yang sempit sehingga meningkatkan potensi penyebaran rabies.
Adapun Indonesia telah berjanji untuk menghilangkan rabies pada tahun 2020.
Bahaya lain, kata para aktivis, adalah ancaman keselamatan para pemilik hewan dari para pencuri hewan.
Dikhawatirkan bahwa sebanyak sembilan dari 10 hewan yang disembelih adalah hewan peliharaan yang dicuri dari pemiliknya atau direbut dari jalan-jalan.
Surat itu juga menyebut bahwa perdagangan hewan dapat merusak reputasi internasional Indonesia sebagai tujuan wisata populer.
Desakan dari Parlemen Uni Eropa
Penjualan daging hewan peliharaan yang didahului dengan penyiksaan juga sempat menjadi sorotan Parlemen Uni Eropa (UE) yang bermarkas di Brussel, Belgia.
Anggota Parlemen asal Jerman, Stefan Bernhard Eck MEP mengutus Direktur Kesejahteraan Hewan Jerman Sabastian Margenfeld ke Tomohon pada 18 hingga 19 April 2018.
Kedatangan Sabastian untuk menyaksikan langsung kondisi pasar ekstrim Tomohon, pasar yang jadi pembicaraan di Eropa.
Hasil amatannya selama dua hari di Tomohon akan ia sampaikan ke parlemen yang mengutusnya.
Sabastian menemukan tiga permasalahan. Pertama soal prinsip kesejahteraan hewan.
Kata dia, terjadi penyiksaan anjing dan kucing di pasar ini sebelum mereka dibunuh. Apalagi hewan domestik ini melewati perjalanan panjang yang menyiksa sebelum tiba di pasar.
Selanjutnya permasalahan kesehatan masyarakat, terutama yang berkaitan dengan rabies.
Proses transportasi anjing dari satu provinsi ke provinsi lain rawan terjadi penyebaran rabies.
Tak ada yang bisa menjadi anjing di pasar ini bebas rabies.

Permasalahan ketiga soal anggapan Tomohon sebagai kota wisata akan tercoreng.
Apalagi, menurutnya, di Jerman dan Eropa pada umumnya, keberadaan pasar ekstrem berpengaruh pada pandangan turis.
"Apalagi melihat kondisi di mana anjing dan kucing dibiarkan tetap hidup di pasar tersebut," ujarnya.
Sabastian bersama rekannya, didampingi Manajer Program Animal Friends Manado Indonesia Frank Delano Manus bertemu Sekkot Tomohon saat itu, Harold Lolowang bersama Kepala Dinas Pariwisata dan Dirut PD Pasar.
Pada pertemuan itu, Sabastian menyampaikan beberapa kemungkinan yang bisa menjadi solusi.
Mereka menekankan agar Pemkot Tomohon lebih memerhatikan prinsip kesejahteraan hewan.
Kemudian sebisa mungkin tak ada transportasi masuk anjing, kucing dan semua hewan dari daerah lain ke Sulut maupun Tomohon.
Sabastian juga berharap ada kampanye publik agar lebih aware dengan rabies.
"Menurut saya itu adalah diskusi yang positif dengan mereka. Mereka terbuka dan memberi perhatian atas apa yang saya sampaikan. Mereka berkata akan menyelesaikan permasalahan itu," ujarnya. (*)
Baca juga: Reshuffle Kabinet Jokowi, Sosok Bambang Brodjonegoro Bakal Pimpin Kemendikbud Gantikan Nadiem
Baca juga: Kejagung Periksa 5 Saksi Dugaan Korupsi Pengelola Keuangan dan Dana Investasi BPJS Ketenagakerjaan
Baca juga: Pelanggaran Cak Imin Dibeber Para Mantan Ketua DPC PKB, Muhaimin Zalim Ubah AD/ART