Sulawesi Utara
Menuju Sulut Maju, Sejahtera dan Berkelanjutan

Catatan Willy Kumurur

Tak Ada yang Abadi

Rossi kemudian meredup seiring bertambahnya usia. Refleksnya mulai berkurang, dan tak pernah lagi menang sejak kemenangan terakhirnya di Belanda 2017.

Dokumen Willy Kumurur
dr Willy Kumurur 

Ia memperoleh, tanpa pernah memiliki. Sementara Friedrich Nietzsche, filsuf Jerman, berpendapat lain.

“Manusia—pada hakikatnya—adalah makhluk ‘pemenang’ dan selalu ingin ‘menang’.”

Demikian diktum “ubermensch” Nietzsche.

Oleh karena itu, segala sesuatunya disiapkan untuk menang, termasuk menempuh segala cara untuk mewujudkan kemenangan (ill principle).

Sang Waktu akan menggerus segala sesuatu.

Kehebatan, keperkasaan, kecantikan dan ketampanan akan pupus seiring berjalannya waktu.

Tahun yang akan berlalu ini, 2020, adalah tahun paling muram dan suram bagi dunia.

Dunia dilanda pandemi Covid-19 selama hampir setahun dan belum ada tanda-tanda akan mereda.

Apakah pandemi akan berakhir di tahun 2021? Apakah vaksin adalah jawabannya?

Paul Stewart, aktor teater di penghujung abad ke-19 Amerika, menulis, “Everything passes. Joy. Pain. The moment of triumph; the sigh of despair. Nothing lasts forever (Semuanya berlalu. Kegembiraan. Rasa sakit. Momen kemenangan; lenguhan putus asa. Tak ada yang abadi.)"

Tatkala zaman keemasan berlalu dan turun dari singgasana, adakah legacy (warisan) untuk kesejahteraan umat manusia yang akan dikenang banyak orang?

Filsuf Plato menulis, orang yang terus mencari berarti akan terus belajar.

Ia takkan pernah puas atas hal-hal yang ia ketahui.

Dorongan untuk terus mencari ini adalah juga dorongan untuk tiba pada “keabadian”.

Dan “keabadian” itu, terefleksi melalui karya dan karsa manusia, meski usianya di dunia ini terbatas, tidak abadi.****

Halaman 4/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved