Catatan Willy Kumurur
Tak Ada yang Abadi
Rossi kemudian meredup seiring bertambahnya usia. Refleksnya mulai berkurang, dan tak pernah lagi menang sejak kemenangan terakhirnya di Belanda 2017.
Nothing Lasts Forever
oleh: Willy Kumurur
Alumni Fakultas Kedokteran Universitas Sam Ratulango
“Kita tidak memiliki apa pun yang benar-benar milik kita;
semua yang kita pegang hanyalah pinjaman belaka."
~~Nicolas Poussin (pelukis Perancis abad ke-16).
Tepuk tangan puluhan ribu penonton membahana.
Saat itulah, terdengar suara seseorang berkata, “Listen to the crowd (dengarkan orang banyak).”
Suara itu milik Nick Harris, komentator legendaris MotoGP yang sudah berkecimpung di dunia balap motoGP dan olahraga lainnya selama 35 tahun.
Ia mengomentari sekian banyak tahun pada zaman keemasan Valentino Rossi di arena MotoGP.
Ada saat-saat The Doctor (julukan Rossi) harus start dari tengah atau bahkan dari belakang, dan ketika Rossi satu persatu melewati pebalap-pebalap yang usianya jauh di bawahnya, aplaus puluhan ribu penonton yang memadati arena balap terdengar oleh pemirsa televisi.
Saat tepuk-tangan penonton masih menggema, Nick Harris melanjutkan komentarnya dengan kalimat bertuah itu, listen to the crowd.
Harris pulalah yang memopulerkan istilah The Doctor is back. Namun itu dulu.
Setelah meraih gelar juara dunia 9 kali, era kejayaan Valentino Rossi berakhir.
Adalah Marc Marquez, bintang muda, yang menggusurnya dari singgasana MotoGP.
Rossi kemudian meredup seiring bertambahnya usia. Refleksnya mulai berkurang, dan tak pernah lagi menang sejak kemenangan terakhirnya di sirkuit Assen-Belanda tahun 2017.
Jika ia menang lagi di tahun 2021, tak akan mengembalikan masa jayanya dahulu. Bintangnya telah redup.
Di arena tinju, dunia mengenal Mike ‘Iron’ Tyson. Sejak tahun 1986 ia merajai ring tinju profesional dunia di kelas berat.
Satu persatu lawannya dipukul knock out (KO), dan lawan yang diramalkan akan menjadi lawan terberatnya, Michael Spinks, tersungkur KO di detik ke-90 ronde pertama.
Setiap lawan yang menghadapinya sudah gemetar ketakutan dan kalah sebelum bertanding.
Ia terus menang KO di hampir semua laga, sampai suatu hari: 11 Februari 1990, Tyson menghadapi penantangnya, seorang petinju yang tidak terkenal yaitu James 'Buster' Douglas.
Si Leher Beton, julukan Tyson, justru tak berdaya dan kalah KO pada ronde ke-10.
Sejak itu, bintangnya mulai pudar. Apalagi setelah Evander Holyfield dan Lennox Lewis menghabisinya.
Ia memang masih bertinju setelah itu, namun zaman keemasannya telah berlalu.
Apalagi ia masuk keluar penjara akibat kasus-kasus kriminal yang dilakukannya.
Sejak tahun 2008, seniman bola Cristiano Ronaldo dan Lionel Messi bergantian meraih penghargaan sebagai pemain terbaik dunia dalam bentuk tropi Ballon d’Or.
Ronaldo berhasil meraihnya 5 kali (2008, 20013, 2014, 2016 dan 2017), sedangkan Messi 6 kali (2009, 2010, 2011, 2012, 2015 dan 2019).
Dalam kurun waktu sepuluh-sebelas tahun ‘duo alien’ ini bersaing meraih simpati dunia melalui penguasaan bola dan gol-gol ajaib mereka.
Namun sebagaimana Pele dan Diego Armando Maradona, bintang cemerlang kemudian mulai meninggalkan mereka.
Mereka memang masih diandalkan oleh Juventus dan Barcelona, namun perlahan-lahan ‘sihir’ mereka mulai kehilangan tuahnya.
Perlahan namun pasti, bintang mereka mulai suram seiring kehadiran bintang-bintang muda.
Kelompok musik asal Swedia, yang terdiri atas dua pasang suami-isteri, ABBA (Agnetha Fältskog, Björn Ulvaeus, Benny Andersson, dan Anni-Frid Lyngstad), mengguncang dunia dan menguasai blantika musik dunia di tahun 1972-1982.
Lagu Fernando dan Chiquitita amat popular saat itu.
Namun klub itu kemudian bubar ketika dua pasangan tersebut bercerai.
Dunia masih mengenang lagu-lagu mereka, namun ABBA kemudian redup dan pudar.
Di gelanggang politik, ada deretan nama yang amat lama berkuasa.
Fidel Castro, menguasai Cuba selama 52 tahun.
Penguasa Korea Utara, Kim Il-Sung, bertakhta selama hampir 46 tahun.
Muammar Gaddafi 42 tahun berkuasa di Lybia. Josip Broz Tito berkuasa atas Yugoslavia selama 36 tahun.
Seiring meninggalnya Tito, benturan antar etnis mulai timbul yang akhirnya memecah Yugoslavia menjadi Slovenia, Kroasia, Makedonia, Bosnia-Herzegovina, Bosnia, Herzegovina, Montenegro, Serbia dan Kosovo.
Masih banyak deretan pemimpin negara yang berkuasa amat lama namun akhirnya tumbang.
Era Donald Trump hampir berakhir dan akan segera digantikan oleh Joe Biden pada 20 Januari 2021 nanti.
Apakah Trump masih akan maju lagi di Pemilu 2024?
Sang Waktu yang nanti akan menjawabnya. Tak ada yang abadi.
Setiap orang ada masanya, dan setiap masa ada orangnya.
Pertanyaan dari masa ke masa adalah: apa yang dicari manusia?
Adalah filsuf Plato yang menjawabnya dalam bukunya Symposion bahwa intisari dari manusia adalah pencarian.
Manusia adalah mahluk yang terus-menerus mencari, tanpa pernah menemukan apa yang dicarinya.
Ia memperoleh, tanpa pernah memiliki. Sementara Friedrich Nietzsche, filsuf Jerman, berpendapat lain.
“Manusia—pada hakikatnya—adalah makhluk ‘pemenang’ dan selalu ingin ‘menang’.”
Demikian diktum “ubermensch” Nietzsche.
Oleh karena itu, segala sesuatunya disiapkan untuk menang, termasuk menempuh segala cara untuk mewujudkan kemenangan (ill principle).
Sang Waktu akan menggerus segala sesuatu.
Kehebatan, keperkasaan, kecantikan dan ketampanan akan pupus seiring berjalannya waktu.
Tahun yang akan berlalu ini, 2020, adalah tahun paling muram dan suram bagi dunia.
Dunia dilanda pandemi Covid-19 selama hampir setahun dan belum ada tanda-tanda akan mereda.
Apakah pandemi akan berakhir di tahun 2021? Apakah vaksin adalah jawabannya?
Paul Stewart, aktor teater di penghujung abad ke-19 Amerika, menulis, “Everything passes. Joy. Pain. The moment of triumph; the sigh of despair. Nothing lasts forever (Semuanya berlalu. Kegembiraan. Rasa sakit. Momen kemenangan; lenguhan putus asa. Tak ada yang abadi.)"
Tatkala zaman keemasan berlalu dan turun dari singgasana, adakah legacy (warisan) untuk kesejahteraan umat manusia yang akan dikenang banyak orang?
Filsuf Plato menulis, orang yang terus mencari berarti akan terus belajar.
Ia takkan pernah puas atas hal-hal yang ia ketahui.
Dorongan untuk terus mencari ini adalah juga dorongan untuk tiba pada “keabadian”.
Dan “keabadian” itu, terefleksi melalui karya dan karsa manusia, meski usianya di dunia ini terbatas, tidak abadi.****
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/manado/foto/bank/originals/willy-kumurur.jpg)