Profil Andi Silangen, Anak Pulau Penjual Es Lilin yang Kini Ketua DPRD Sulawesi Utara

Di mana pun orang Sanger berkumpul pasti akan bernyanyi. Ciri utama budaya Sangir adalah kesenian.

6. Kepala Puskesmas Seram

dr Fransiscus Andi Silangen atau lebih dikenal dr Andi diundang menjadi pembicara di Kebaktian Kebangunan Rohani (KKR)

Selama berprofesi dokter Andi Silangen mengenyam hidup sejumlah wilayah terpencil di Sulawesi Utara, Gorontalo dan Maluku.

Awalnya di Puskesmas Kecamatan Seram Timur jauh di pelosok Maluku, tepatnya pulau Geser.

Perjalanan ke Pulau Geser, pulau karang hanya dapat ditempuh melalui laut.

Dari Ambon, naik kapal semalam ke Banda Neira, selanjutnya menuju Geser juga perjalanan satu malam.

Pulau ini kini menjadi salah satu destinasi pariwisata di Maluku, dengan terumbu karang raksasa muncul di permukaan laut yang biru.

Salah satu pulau di Geser, berbentuk naga.

Dari kejauhan berbentuk naga, yang empat wilayah daratan tampak model taring di mulut naga.

Andi kembali harus berjibaku dengan laut.

Naluri anak pulau ia tunjukkan dengan pengabdian tulus kepada masyarakat di sana, tinggal di rumah-rumah nelayan.

Pernah dia harus menantang gelombang laut perjalanan Geser menuju Ambon selama 10 jam, mengejar keberangkatan ke Jakarta mengikuti pelatihan vaksetomi tanpa pisau.

Ketika itu Dinas Kesehatan Provinsi Maluku, telah mengganti namanya dengan dokter lain mengingat waktu pelatihan dan informasi diteroima hanya berselang duasehari.

Waktu itu informasi pelatihan diterima melalui radio SSB malam hari.

“Besok subuh jam 03.00, kita cakar pakai speedboat ka Ambon, sampai di sana sore hari,” ungkapnya.

Empat tahun Andi hidup dalam kondisi terbatas di Seram Timur.

Ddi samping angkutan umum terbatas, listrik hanya bernyala enam jam, persediaan obat juga pas-pasan.

Sebagai kepala puskesmas, dia harus memutar otak saat melayani kesehatan masyarakat setempat.

Setiap ada kesempatan dia mengunjungi warga menyampaikan pola hidup sehat, mulai dari makan dan istirahat yang cukup.

Pola penyuluhan bertujuan agar warga sehat. Kalau sakit kita pusing karena obat terbatas.

"Orang bilang hidup di Seram menyeramkan, mar kita anggap sama hidup di Siau jo. Daripada bapikir susah, akhirnya terbiasa” katanya.

Dari Seram, Andi pindah ke Rumah Sakit Aloei Saboe, Gorontalo.

Selanjutnya pindah lagi ke Rumah Sakit Datoe Binangkang Kotamobagu hingga tahun 2005.

Tiga tahun mengabdi di Kotamobagu, Andi Silangen akhirnya kembali ke Manado dan bekerja di RS Kandou.

Selanjutnya menempuh pendidikan bedah digestif di Universitas Indonesia.

Bedah digestif khusus organ tubuh pencernaan, usus, hati dan empedu. 

  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    berita POPULER

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved