Profil Andi Silangen, Anak Pulau Penjual Es Lilin yang Kini Ketua DPRD Sulawesi Utara

Di mana pun orang Sanger berkumpul pasti akan bernyanyi. Ciri utama budaya Sangir adalah kesenian.

1. Keliling Berjualan Es Lilin dan Pisang Goreng

dr Fransiskus Andi Silangen

Andi Silangen kemudian berkisah masa kecil yang penuh perjuangan. Ia merekam semua yang dialami.

Ia tak malu menceritakan kisah hidupnya. Masa kecil Andi dilewati dengan berjualan es lilin.

Kadang menjual pisang goreng. Tak hanya itu, Andi mengisi pundi-pundinya mengambil pasir di pantai dan dijual Rp35 per kaleng biskuit.

Ia menuturkan jualan es lilin dilakukan selepas sekolah.

Ia tak peduli terik matahari membakar kulitnya, terus berkeliling kampung menyusuri lorong mendorong gerobak es.

Kerap ia mangkal di tempat keramaian hingga ke kawasan Sario.

Gerobak kayu itu mampu memuat enam termos es sekaligus. Setiap termos berisi 40 batang es lilin.

Kemampuan Andi menjual es melebihi teman-temannya.

Es diperoleh dari sebuah pabrik PT Pesti, di samping restoran Green Garden, Jalan Sam Ratulangi Manado.

Dari berjualan es, Andi meyakini falsafah hidup bahwa keberuntungan akan selalu mengikuti setiap orang bekerja keras.

Prinsipnya berusaha dan fokus pada pekerjaan hasilnya pasti luar biasa.

Dari berjualan es, ia memperoleh untung setiap termos Rp 40.

Setiap hari Andi menggegam uang Rp240, nilai cukup besar waktu itu.

Kalau es habis, sore hari ia berjualan pisang goreng.

Pada waktu tertentu dia bersama teman-temannya menjadi pemungut bola tenis di Lapangan Tenis Sario dengan upah Rp 100.

Kadang dia mendapat tip dari pemain tenis. Uang diperoleh dinilai cukup besar.

Sebab nasi kuning ataupun mie sowan waktu itu hanya Rp 10.

“Kalau ada bos main tenis dan berbaik hati torang dapa lebe,” katanya.

  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    berita POPULER

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved