Update Virus Corona Bitung
Covid-19 Dibisniskan? Ini Penjelasan Dirut RS Manembo-nembo Pitter Lumingkewas
Covid-19 rekayasa dan 'dibisniskan'? Inilah topik Tribun Jurnal Webkusi bersama Jurnalis Tribun Manado
Penulis: Christian_Wayongkere | Editor: David_Kusuma
TRIBUNMANADO.CO.ID, MANADO - Covid-19 rekayasa dan 'dibisniskan'? Inilah topik Tribun Jurnal Webkusi bersama Jurnalis Tribun Manado yang menghadirkan narasumber dr Pitter Lumingkewas, direktur Rumah Sakit (RS) Manembo-Nembo Tipe C di Bitung, Rabu (12/8/2020).
Informasi atau kabar yang berseliweran terkait Covid-19 yang katanya direkayasa, kata Pitter bukan hanya terjadi di Kota Bitung dan Provinsi Sulut, melainkan sudah se-Indonesia.
"Kami terdampak dengan informasi atau kabar ini. Sempat kejadian juga di rumah sakit kami beredar kabar bahwa rumah sakit membisniskan penyakit ini. Masyarakat kurang percaya dengan penyakit ini dengan mengatakan rekayasa, orang yang masuk karena sakit bisul, kurang kalium, kecelakaan dan lain-lain disebut suspect hingga terkonfirmasi Covid-19," jelas dr Pitter.
Dia jelaskan, terkait sudut pandang masyarakat dan tenaga medis terkait kinerja dalam menangani penyakit Covid-19.
• Bawaslu Boltim Pastikan WNA Tak Bisa Memilih
• Olly Dondokambey Siapkan Pengganti Andrei Angouw, 10 Calon Bersaing Jadi Ketua DPRD Sulut
• Bupati Jabes Gaghana Targetkan Tahun 2022, Pembayaran Digital Masif di Sangihe
Terkait rekayasa dalam ilmu kedokteran kerjanya berbasis bukti tidak ada ilmu kedokteran tanpa bukti, tanpa bukti seluruh dokter di Indonesia tidak akan percaya.
Misalnya yang namanya orang dalam pengawasan (ODP) dan Pasien dalam Pemantauan (PDP yang sekarang istilahnya suspek, pedoman nasionalnya bilang penyakit ini adalah infeksi ada tanda dan gejalanya panas.
Nah oleh tenaga medis akan cari bukti itu, cek dan ukur suhu tubuhnya, jangan hanya perkataan atau ucapan saja mengaku panas atau tidak.
• Sembuh dari Covid-19, Warga Koya Ini Disambut Baik oleh Masyarakat
Lalu di kedokteran itu mencari penyakit karena infeksi, di mana infeksi ini hampir semua mirip, ada flu biasa, ISPA, Malaria dan demam berdarah ada demamnya atau panas.
Bagaimana cara membedakan, di ilmu kedokteran sudah jelas bahwa yang membedakan ada kriteria yang harus dicari. Mulai dari panasnya ada atau tidak ada hitungan plus minusnya, batuk, flu, nyeri tenggorokan dan sesak nafas akan di-screaning tahap awal.
Setelah itu yang ada kemungkinan gejala awal Covid-19 masuk ke IGD sekunder, yang tidak ada gejala masuk ke IGD primer lalu dilakukan screaning lanjut.
"Karena, 70 persen penyakit Covid-19 tidak bergejala. Sehingga ada kemungkinan orang yang masuk rumah sakit karena kecelakaan, serangan jantung, gagal ginjal, diabetes, bisul dan lainnya dalam tubuhnya ada kuman virus dan itu tidak ada yang tahu, karena tidak ada gejala meski masuk dengan penyakit lain bukan virus. Sehingga rumah sakit akan lakukan rapid test, ada pemeriksaan darah, pemeriksaan foto dada atau CT scan. Kalau hasil rapid reaktif bagaimana, kalau darah rendah, ada pneumonia atau virus kemungkinan besar akan suspek (curiga/kemungkinan)," jelasnya.
Setelah itu ada tahap swab yang hasilnya keluar dari alat pemeriksaan, sehingga kerap muncul kerancuan dari masyarakat sehingga harus ada bukti, lewat alat ini buktikan pasien kena covid atau tidak.
• Hoaks Diprediksi Bakal Menjamur di Pilkada 2020, Masa Kampanye Lebih Panjang Dibandingkan Sebelumnya
• Bupati Jabes Gaghana Targetkan Tahun 2022, Pembayaran Digital Masif di Sangihe
Sehingga kalau ada yang bilang rekayasa sangat tidak mungkin. Kenapa juga ada vonis dari warga, pasien yang masuk ke rumah sakit oleh dokter di bilang PDP atau suspek dan sudah Covid-19.
Padahal itu berdasarkan hasil pemeriksaan dan bukti, hasil pemeriksaan terhadap terhadap pasein hingga diperoleh hasil PDP atau suspek dan terkonfirmasi covid-19.
"Contoh hasil foto atau CT scan dada pasien, ditemukan ada pheumonia membuatnya jadi PDP atau suspek bukan karena dokternya. Kemudian terkait dokter atau tenaga kesehatan meng-covidkan pasien tidak seperti itu, karena apa? dokter itu berani ikut campur, dokter hanya mengirimkan sampel ke laboratorium untuk diperiksa melalui alat, apakah ada virus penyebab covid-19 atau tidak. Kalau ada virus, berarti positif covid-19 dari hasil pemeriksaan dari alat. Nantinya dokter akan mengambil hasil pemeriksaan itu sebagai bukti, karena alat basis pembuktian bukan karena keinginan dokter, kalau rekayasa berarti covid-19 di seluruh dunia rekayasa, itu tidak mungkin," urainya.