Tajuk Tamu Tribun Manado

Peradaban Global, Manusia dan Humanisme

Driyarkara pernah mengatakan bahwa manusia adalah suatu kesatuan dengan dunia alam, namun sekaligus bertransendensi terhadapnya.

Peradaban Global, Manusia dan Humanisme
NET
Ilustrasi 

Oleh:
Ambrosius M Loho M.Fil
* Dosen Universitas Katolik De La Salle Manado
* Pegiat Filsafat-Estetika

REFLEKSI yang terkemas dalam tulisan sederhana ini, pertama-tama muncul sebagai reaksi penulis melihat situasi peradaban global saat ini, yang akhirnya memunculkan (sedikit) upaya untuk mendudukkan posisi yang semestinya subjek manusia ketika berhadapan dengan peradaban global, dan menempatkan paham filosofis tentang humanisme yang dipandang cukup ‘mumpuni’ untuk dijadikan model.

Sebagaimana kita ketahui, kemajuan yang tampak kini tentu tidak perlu diperdebatkan, dalam pengertian bahwa hal itu berdampak positif, dengan harapan mampu membawa perubahan dunia dan manusia. Namun apakah kemajuan yang dimaksud sungguh-sungguh membawa dampak yang riil, tentu butuh penjelasan lebih.

Dalam sebuah uraian yang mendalam dan kritis, terdapat satu hal yang menarik yang menurut hemat penulis perlu digaungkan lagi. Karya yang dimaksud berjudul ‘Humanisme & Peradaban Global’ karya Damianus Hali yang terkemas apik dalam "Humanisme & Humaniora 2013".

Dalam uraiannya, Hali mengatakan bahwa dalam era globalisasi dunia seakan bergerak sangat cepat. Dunia bahkan mampu merombak tatanan fundamental dan artifisial hidup manusia. Dan tak seorang pun luput dari pergerakan ini. Harapan, kegelisahan dan kecamasan pasti muncul dengan gejala yang muncul ini. (260).

Prosesi Pemakaman Qassem Soleimani Tewaskan 56 Pelayat, Penguburan Ditunda

Maka, menghadapi ‘dobrakan yang dahsyat’ ini, apa langkah penting yang bisa ditempuh untuk mengatasinya, jika saja globalisasi itu justru tampil begitu ‘mengecewakan’ bahkan tidak membawa dampak yang semestinya?

Hali menegaskan lagi, bahwa para filsuf di abad pertengahan mempunyai ajaran sederhana. Menurut mereka, semakin kita mampu memahami dunia dan diri kita sendiri secara rasional, semakin kita mampu membentuk sejarah untuk tujuan kita, demi mengendalikan masa depan.

Dengan kata lain, kita harus memahami sejarah untuk membuat sejarah. Sejurus dengan itu, kita perlu memahami bahwa pada dasarnya, sejarah tercipta untuk dipahami, dan dipergunakan sesuai dengan kebutuhan kita, dalam arti sesuai dengan perkembangan di mana sejarah itu mau dipakai. (261).

Dengan demikian, mengartikan bahwa kita menjadi penentu utama atau tokoh sentral dalam menghadapi dunia yang berkembang itu, mengingat kita juga berada di dalam dunia yang sedang berkembang itu (baca: Globalisasi yang dimaksud). Pendek kata, manusia menjadi tokoh kunci dan menjadi sumber kekuatan yang tak ada habisnya.

792 Ribu Peserta BPJS Turun Kelas

Yakin atau tidak, di tengah perkembangan dunia dan peradaban, manusialah yang mengambil peran paling penting. Bahkan Hali mengatakan: Titik temu antara perkembangan globalisasi yang mempengaruhi kebudayaan yang bahkan membawa dampak bagi peradaban, adalah kemampuan manusia untuk merumuskan kembali apa yang sebetulnya diidealkan, apa yang dianggap berharga dalam hidup ini, dan mau dibawa kemana evolusi peradaban ini, tergantung dari kapasitas dan kapabilitas manusia. (268).

Ketika mendalami hal yang diuraikan di atas, penulis cukup tertarik bukan hanya pada faktor manusia sebagai tokoh kunci, melainkan juga pada sisi humanisme yang atas cara tertentu sangat mengedepankan sisi kemanusiaan dalam berbagai macam hal.

Halaman
12
Editor: maximus conterius
Sumber: Tribun Manado
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved