Catatan Seorang Jurnalis
Catatan Seorang Jurnalis: Apologet Bersepatu Bola
Mukjizat dibuang dari Alkitab ; kisah Yesus berjalan di atas air dipangkas habis dan dianggap sebatas metafora puitis atau sekadar salah paham.
Penulis: Arthur_Rompis | Editor: Rizali Posumah
Ringkasan Berita:
- Mukjizat dibuang dari Alkitab ; kisah Yesus berjalan di atas air dipangkas habis dan dianggap sebatas metafora puitis atau sekadar salah paham optik oleh para teolog liberal.
- Para pemuja paham kedaulatan manusia kian lantang merayakan penyingkiran total Kekristenan dari publik yang mereka sebut puncak peradaban.
- Di atas mimbar pun setali tiga uang. Gott ist tot.
Kita telah tiba di suatu masa ketika orang orang merayakan matinya Tuhan.
Gereja gereja di Eropa beralih fungsi menjadi bar.
Mukjizat dibuang dari Alkitab ; kisah Yesus berjalan di atas air dipangkas habis dan dianggap sebatas metafora puitis atau sekadar salah paham optik oleh para teolog liberal.
Para pemuja paham kedaulatan manusia kian lantang merayakan penyingkiran total Kekristenan dari publik yang mereka sebut puncak peradaban.
Di atas mimbar pun setali tiga uang. Gott ist tot.
Yesus yang dikhotbahkan kini kerap menjadi Yesus yang lain.
Ia yang disalibkan untuk menebus dosa dan bangkit membawa kemenangan maut, tidak lagi dikenali.
Umat cenderung memuja Yesus yang perkasa hanya sebagai sosok pembuat mukjizat yang bertugas mengabulkan semua daftar permintaan manusia.
Namun, ada kerapuhan eksistensial yang tersembunyi di balik ketegaran semu manusia modern.
Di balik senyum sinis yang menolak keberadaan surga, kecemasan batin tetap menganga.
Kita berhasil memperoleh seisi dunia, tetapi kehilangan hidup itu sendiri.
Tepat di saat mimbar mulai runtuh menjadi puing dan para apologet kepayahan berduel melawan kaum ateis, Tuhan justru berbicara melalui cara yang tak terduga.
Ia meminjam kaki-kaki legam yang menendang bola di panggung Piala Dunia.
Di tengah publik global yang skeptis terhadap agama, miliaran pasang mata - termasuk warga yang tengah noreng (nonton bareng) di lorong-lorong padat Kota Manado - menyaksikan bagaimana hukum bola dipaksa tunduk pada kedaulatan Ilahi.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/manado/foto/bank/originals/Penjualan-bendera-negara-peserta-Piala-Dunia-2026-di-Pasar-45.jpg)