Opini
Catatan Seorang Jurnalis: Mencari Bung Karno di Tikala Baru Manado
Di balik rumah itu, tersembunyi jejak Bung Karno, sang proklamator yang dijuluki Penyambung Lidah Rakyat.
Penulis: Arthur_Rompis | Editor: Dewangga Ardhiananta
Soekarno sendiri tidur di salah satu kamar tersebut.
"Kamar itu kini isinya hanya barang-barang biasa," kata Elma.
Menurutnya, rumah dan seluruh bagiannya belum pernah dipugar sejak dibangun pada tahun 1950.
Saya mencoba mengetuk kayunya.
Kayu tersebut terasa sangat kuat.
"Paku pun mental," ujar Elma menegaskan kualitasnya.
Elma bercerita bahwa sang ayah adalah pengusaha galangan kapal satu-satunya di Sulut pada tahun 50-an.
Karena itulah rumah tersebut sengaja dibangun menyerupai model kapal.
Semua tamu penting yang datang ke Sulut pasti melewati pintu ayahnya.
"Mereka diantar ayah dengan kapal untuk memancing dan agenda lainnya.
Menginapnya ya di sini," kenang Elma.
Salah satu tamu agung itu adalah Soekarno.
Waktu kecil, Elma kerap mendengar cerita ayahnya tentang sosok sang proklamator.
"Ayah sangat bangga bercerita pernah menjamu Soekarno di rumah itu," katanya.
"Banyak sekali yang kemari," tuturnya.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/manado/foto/bank/originals/tersembunyi-jejak-Bung-Karno-sang-proklamator-yang-dijuluki-Penyambung-Lidah-Rakyat.jpg)