Opini
Kampus Bukan Pabrik
Jika kampus dipaksa tunduk sepenuhnya pada logika industri jangka pendek, bangsa ini sedang menukar kedalaman berpikir dengan pragmatisme sesaat.
Maka, wacana penghapusan jurusan yang dianggap tidak relevan sebaiknya tidak diterima mentah-mentah. Yang lebih mendesak untuk dibongkar adalah kebiasaan buruk dalam pendidikan tinggi: hafalan yang dipuja, refleksi yang diabaikan, bimbingan yang setengah hati, administrasi yang mengalahkan intelektualitas, dan orientasi instan yang mengorbankan kedalaman. Kampus harus kembali menjadi ruang pembentukan manusia yang bisa berpikir, bukan sekadar bisa bekerja. Sebab manusia yang bisa bekerja tetapi tidak bisa berpikir hanya akan menjadi alat. Sementara bangsa yang besar membutuhkan warga yang sanggup menilai, mengoreksi, dan menciptakan jalan baru. Itulah tugas esensial pendidikan tinggi dalam era digital dan post-truth: membentuk akal yang jernih, etika yang teguh, dan keberanian untuk terus belajar. (*)
kampus
industri
jurusan tidak relevan
perguruan tinggi
Program Studi Vokasi
humaniora
Literasi Digital
Herkulaus Mety
| Bahasa yang Ditinggalkan: Ketika Sastra Tak Lagi Menjadi Rumah Berpikir di Sekolah |
|
|---|
| Otokritik atas Turunnya Posisi Manado dalam Indeks Kota Toleran |
|
|---|
| Hari Kartini dan Tantangan Demokrasi di Bumi Nyiur Melambai |
|
|---|
| Ketika AI Semakin Akurat dari Dokter: Apa yang Terjadi pada Profesi Medis dan Kemanusiaan? |
|
|---|
| Warisan Budaya Tak Benda Harus Diapakan? |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/manado/foto/bank/originals/Hery-Mety-Penulis.jpg)