Catatan Seorang Jurnalis
Sehidup Semati, Abadi dalam Kristus
Eva pergi dalam damai. Seperti lilin yang habis terbakar. Sedang Leo seakan tahu, bahwa sang istri tak bisa jalan sendiri menuju Firdaus.
Penulis: Arthur_Rompis | Editor: Gryfid Talumedun
“Papa bahkan masih meminta izin kepada mama untuk beristirahat,” tuturnya.
Menurutnya, kedua orang tuanya memiliki sifat yang berbeda.
Sang ibu dikenal aktif, sementara ayahnya pendiam dan penyabar.
Namun, perbedaan itu justru menjadi kekuatan dalam rumah tangga mereka.
“Ibu pernah bilang, kunci rumah tangga bukan pada cinta, tapi pada fokus kepada pasangan. Cinta bisa hilang, tapi penerimaan membuat hidup penuh kasih,” katanya.
Saya meninggalkan rumah duka dengan perasaan masygul.
Saya dan mungkin kita semua, menganggap rumah tangga adalah kuil dewi cinta yang berkobar-kobar.
Dari sini saya belajar bahwa rumah tangga adalah salib, suatu penerimaan terhadap kekurangan, untuk tetap setia, hadir, bahkan di tengah kesulitan.
Seperti sang putra Allah Yesus Kristus, yang menerima manusia apa adanya, demikianlah manusia harus menerima pasangannya, dengan menebus kekurangannya.
Itulah salib.
Saya kira Leo dan Eva telah memikulnya dengan setia, hingga Tuhan memberi anugerah yang langka, tiba bersama di Firdaus. (Arthur Rompis)
Baca juga: Sosok Penatua Am Leo Sahuburua dan Diaken Eva Andilolo, Cinta Sehidup Semati Sebagai Pelsus GMIM
-
Ikuti Saluran WhatsApp Tribun Manado dan Google News Tribun Manado untuk pembaharuan lebih lanjut tentang berita populer lainnya.
Baca berita lainnya di: Google News
WhatsApp Tribun Manado: Klik di Sini
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/manado/foto/bank/originals/Penatua-Leonard-Matheis-Sahuburua-57-dan-Diaken-Ninerva-Andilolo-52-berpulang.jpg)