Selasa, 21 April 2026
Sulawesi Utara
Menuju Sulut Maju, Sejahtera dan Berkelanjutan

Catatan Seorang Jurnalis

Sehidup Semati, Abadi dalam Kristus

Eva pergi dalam damai. Seperti lilin yang habis terbakar. Sedang Leo seakan tahu, bahwa sang istri tak bisa jalan sendiri menuju Firdaus. 

|
Penulis: Arthur_Rompis | Editor: Gryfid Talumedun
Tribun Manado/Arthur Rompis
CINTA SEJATI - Sepasang suami istri di Desa Watutumou, Kecamatan Kalawat, Kabupaten Minut, Sulut. Penatua Leonard Matheis Sahuburua (57) dan Diaken Ninerva Andilolo (52), berpulang dalam waktu yang sangat berdekatan, hanya berselang dua jam. 

SEHIDUP semati.

Janji yang sering terucap dalam sukacita altar pernikahan itu, terkadang hanya rangkaian kata indah. 

Namun di Desa Watutumou, Kecamatan Kalawat, Kabupaten Minut, provinsi Sulut, janji itu menjelma nyata dalam sebuah kesederhanaan yang agung. 

Sepasang suami istri, Penatua Leonard Matheis Sahuburua (57) dan Diaken Ninerva Andilolo (52), berpulang dalam waktu yang sangat berdekatan, hanya berselang dua jam.

Ninerva Andilolo, yang akrab disapa Eva dan dikenal sebagai Pelsus (Diaken) Kolom 4 Jemaat GMIM Eben Haezer Watutumou, meninggal dunia pada Sabtu (28/3/2026) sekitar pukul 00.01 WITA.

Selang dua jam kemudian, sang suami tercinta, Leonard Sahuburua atau Leo, yang juga menjabat sebagai Ketua Komisi Aset Gereja dan UPD Kolom, menyusul berpulang pada Minggu (29/3/2026) sekitar pukul 02.00 WITA.

Eva pergi dalam damai.

Seperti lilin yang habis terbakar. 

Sedang Leo seakan tahu, bahwa sang istri tak bisa jalan sendiri menuju Firdaus. 

Duka mendalam menyelimuti rumah keluarga di Perumahan Maumbi Indah, Watutumou

Sejak kabar kepergian keduanya tersebar, warga terus berdatangan untuk melayat dan mengenang jejak pelayanan pasangan tersebut.

Peristiwa langka ini pun dimaknai dengan iman oleh warga. 

Banyak yang meyakini bahwa keduanya kini telah bersama di sisi Yesus Kristus.

Suasana duka terasa kian mendalam.

Langit yang sebelumnya cerah tampak mendung, seolah turut berbelasungkawa.

Saat disambangi pada Senin (30/3/2026) pagi, rumah duka dipenuhi karangan bunga.

Dua jenazah disemayamkan berdampingan di ruang tamu, masing-masing dalam peti.

Leo tampak mengenakan jas hitam, sementara Eva mengenakan gaun putih.

Keduanya terlihat tenang, damai dalam pelukan keabadian.

Kaur Kesra Desa Watutumou, Agusta Allow, mengungkapkan bahwa Leo meninggal dunia di saat penantian waktu dua jam untuk memastikan kematian sang istri secara medis. 

Sebelumnya Eva dirawat di rumah sakit karena kanker usus. 

“Tiba-tiba ia merasa sesak napas dan dibawa ke UGD. Ia wafat saat pendeta sedang menyelesaikan doa untuk istrinya di ruang jenazah,” ujarnya.

Menurutnya, cinta kasih keduanya begitu nyata hingga detik-detik terakhir.

Bahkan dalam kondisi kritis, Eva sempat meminta agar suaminya tidur bersamanya.

“Dokter mengizinkan. Keduanya pun tidur. Suaminya tertidur lelap, bahkan mendengkur, dan Eva bisa beristirahat dengan tenang,” katanya.

Kebersamaan itu, lanjutnya, memang selalu terlihat dalam kehidupan sehari-hari, termasuk saat beribadah.

“Keduanya selalu bersama-sama ke gereja,” tambahnya.

Putri semata wayang mereka Valentine Grieda Sahuburua, mengenang ketelatenan sang ayah dalam merawat ibunya selama sakit.

“Ayah terus menjaga ibu dengan sabar, tanpa pernah mengeluh,” ungkapnya.

Ia juga mengingat momen-momen kecil penuh kasih di rumah sakit, termasuk saat ayahnya yang kelelahan tetap ingin menemani sang ibu.

“Papa bahkan masih meminta izin kepada mama untuk beristirahat,” tuturnya.

Menurutnya, kedua orang tuanya memiliki sifat yang berbeda.

Sang ibu dikenal aktif, sementara ayahnya pendiam dan penyabar.

Namun, perbedaan itu justru menjadi kekuatan dalam rumah tangga mereka.

“Ibu pernah bilang, kunci rumah tangga bukan pada cinta, tapi pada fokus kepada pasangan. Cinta bisa hilang, tapi penerimaan membuat hidup penuh kasih,” katanya.

Saya meninggalkan rumah duka dengan perasaan masygul.

Saya dan mungkin kita semua, menganggap rumah tangga adalah kuil dewi cinta yang berkobar-kobar. 

Dari sini saya belajar bahwa rumah tangga adalah salib, suatu penerimaan terhadap kekurangan, untuk tetap setia, hadir, bahkan di tengah kesulitan. 

Seperti sang putra Allah Yesus Kristus, yang menerima manusia apa adanya, demikianlah manusia harus menerima pasangannya, dengan menebus kekurangannya. 

Itulah salib. 

Saya kira Leo dan Eva telah memikulnya dengan setia, hingga Tuhan memberi anugerah yang langka, tiba bersama di Firdaus. (Arthur Rompis) 

Baca juga: Sosok Penatua Am Leo Sahuburua dan Diaken Eva Andilolo, Cinta Sehidup Semati Sebagai Pelsus GMIM

-

Ikuti Saluran WhatsApp Tribun Manado dan Google News Tribun Manado untuk pembaharuan lebih lanjut tentang berita populer lainnya.

Baca berita lainnya di: Google News

WhatsApp Tribun Manado: Klik di Sini

Sumber: Tribun Manado
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

Berita Populer

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved